JAKARTA – Dalam situasi krisis, keputusan yang cepat dan tepat menjadi kunci bagi seorang pemimpin untuk memastikan stabilitas negara. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), dalam Kuliah Umum Meet The Leaders bertajuk “Leading Through the Storm: Resilient Leadership in Time of Crises” yang berlangsung di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu, 24 Mei 2025.
Dalam kesempatan itu, JK menekankan bahwa ketangguhan seorang pemimpin diuji bukan hanya dari keberaniannya mengambil kebijakan, tetapi dari ketepatan keputusan yang diambil berdasarkan pemahaman mendalam terhadap akar permasalahan. “Kecepatan mengambil kebijakan bukan sekadar keberanian, tapi harus disertai kejelian dan pemahaman yang kuat terhadap masalah yang dihadapi,” ujar JK.
Mengibaratkan krisis sebagai badai yang menghadang kapal besar, JK menekankan pentingnya ketenangan dan fokus dalam menghadapi situasi sulit. “Seorang pemimpin harus tetap tenang dan berpikir strategis agar kapalnya tidak karam,” tambahnya.
Ia juga menggarisbawahi bahwa komunikasi efektif dengan masyarakat menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah. Menurutnya, pengambilan kebijakan yang tergesa-gesa dan emosional dapat memperburuk keadaan. “Kebijakan yang baik lahir dari ketenangan, bukan dari kegaduhan,” tegas JK.
Sebagai figur yang berperan dalam meredam berbagai konflik di Indonesia, seperti Poso, Ambon, dan Aceh, JK turut berbagi pengalamannya dalam mengambil kebijakan strategis di saat krisis ekonomi 1998 dan 2008. Ia menyebutkan bahwa keputusan kontroversial seperti menaikkan harga BBM dan minyak tanah serta menghapus subsidi, justru berhasil dilaksanakan tanpa gejolak besar. Strategi komunikasi yang tepat dan waktu yang dipilih dengan cermat menjadi faktor penentu keberhasilan kebijakan tersebut.
JK juga mengkritisi kebijakan Tarif Trump yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menurutnya lebih berani daripada bijak. Ia menilai bahwa kebijakan tersebut justru merugikan rakyat dan pengusaha Amerika karena harga barang impor menjadi lebih mahal.
Sebagai penutup, JK memberikan nasihat kepada para pemimpin yang berada di tengah krisis. Ia menekankan perlunya pengalaman, ketenangan, serta strategi yang matang untuk memastikan negara dapat keluar dari badai yang melanda. “Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan yang tepat, bukan sekadar nekat. Tanpa strategi yang matang, negara bisa kacau dan persoalan tidak pernah selesai,” pungkasnya.(*)






