Banyuwangi Jadi Lokasi Percontohan Gerakan Wisata Bersih Nasional ke-9

BANYUWANGI– Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) secara resmi menunjuk Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai lokasi pilot project Gerakan Wisata Bersih (GWB) Nasional ke-9. Penunjukan ini merupakan bentuk pengakuan atas keberhasilan daerah tersebut dalam membangun ekosistem pariwisata yang inklusif, ramah lingkungan, dan berbasis masyarakat.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hariyanto, dalam sambutannya di Pantai Grand Watu Dodol, Banyuwangi, mengungkapkan bahwa Banyuwangi bersama 16 daerah lainnya didorong menjadi role model gerakan nasional menuju pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

“Banyuwangi dipilih karena sukses membangun kolaborasi multipihak dalam memajukan pariwisata. Ini bukan sekadar acara simbolik, tapi wujud komitmen bersama untuk tata kelola destinasi yang bersih, sehat, dan berdaya saing,” ungkap Hariyanto di hadapan 500 peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah pusat, daerah, mitra swasta, hingga komunitas lokal.

Kegiatan GWB tak hanya melibatkan aksi bersih-bersih kawasan pantai, tetapi juga edukasi pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta kampanye Sapta Pesona untuk membentuk perilaku sadar wisata.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi budaya lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat Banyuwangi.

“Kesadaran lingkungan kami tumbuh dari bawah. Gerakan ini memperkuat semangat itu dengan melibatkan lebih banyak pihak yang peduli,” ujarnya.

Senada, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, menyebut Banyuwangi sebagai contoh konkret sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan sektor swasta dalam memperkuat keberlanjutan pariwisata.

Sektor privat pun turut ambil bagian. PT Pertamina Patra Niaga menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat sampah terpilah dan peralatan kebersihan. Sementara Atourin, platform digital pariwisata Indonesia, mengintegrasikan GWB dengan program edukatif Gerakan Arti Moment. “Kami ingin wisatawan bukan hanya datang, tapi juga berkontribusi menjaga lingkungan,” kata CEO Atourin, Benarivo Triadi Putra.

Dengan pendekatan kolaboratif dan multisektor, Banyuwangi tak hanya menjadi tuan rumah kegiatan nasional, melainkan juga living example dari transformasi sosial-ekologis di sektor pariwisata.(*)

Pos terkait