SURABAYA – Produk fesyen ramah lingkungan karya Namira Ecoprint kian dekat menjangkau pasar dunia. Melalui program UMK Academy 2025 yang digagas oleh PT Pertamina (Persero), usaha mikro asal Surabaya ini dipilih menjadi salah satu peserta kelas Go Global, bagian dari program pendampingan yang dirancang mendorong pelaku usaha mikro dan kecil naik kelas dan lebih adaptif menghadapi tantangan zaman.
“Dengan mengikuti kelas Go Global, Namira Ecoprint akan mendapatkan pelatihan intensif, pendampingan usaha, coaching satu per satu, serta akses mengikuti pameran berskala nasional dan internasional,” ungkap Akselerator UMK Academy 2025, Aliff Indira Thahir saat mengunjungi rumah produksi Namira Ecoprint di Surabaya, Rabu, 26 Juni 2025.
Didirikan sejak 2019 oleh Yayuk Eko Agustin Wahyuni, Namira Ecoprint dikenal dengan produk handmade ramah lingkungan tanpa bahan kimia, seperti kain, kerudung, hingga jaket kulit domba. Saat ini, Namira memproduksi sekitar 500 item per bulan dan telah menembus pasar ekspor ke Thailand, Oman, Arab Saudi, hingga Kanada.
Program UMK Academy 2025 sendiri mengangkat tema “Beri Energi Baru Menuju UMK Maju” dan resmi dimulai pada 14–21 Mei lalu di delapan kota di Indonesia. Tahun ini, sebanyak 1.490 pelaku UMK dinyatakan lolos seleksi nasional. Mereka akan menempuh pelatihan di tingkat regional dengan kurikulum bertahap, yaitu Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global—seluruhnya disusupi nilai Go Green sebagai upaya mencetak UMK berwawasan lingkungan.
Vice President Corporate Social Responsibility and Small Medium Enterprise Partnership Program Pertamina, Rudi Arifianto, menyebut tahun ini program hadir dengan format lebih dinamis. “Kami sediakan Platform UMK Academy berbasis digital yang dilengkapi modul interaktif, video edukatif, asesmen, hingga gamifikasi untuk mendorong peningkatan kapasitas bisnis secara menyeluruh,” jelasnya.
Lebih jauh, UMK Academy 2025 menargetkan sektor potensial seperti agribisnis, wastra, fesyen, kerajinan, kuliner, hingga perhiasan. Upaya ini juga didesain sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya agenda peningkatan wirausaha dan industri kreatif sebagai pendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Yayuk menyambut penuh harapan keikutsertaannya dalam program ini. Ia berharap Namira Ecoprint bisa memenangkan hibah alat teknologi agar kapasitas produksi meningkat dan manfaatnya meluas bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Namira mempekerjakan sepuluh orang, termasuk penyandang disabilitas.
“Kami ingin menjadi pelaku usaha yang tak hanya ramah lingkungan, tapi juga inklusif dan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja,” tuturnya optimistis.(*)





