Di Antara Dua Pesisir: Parepare dan Lero, Siapa yang Lebih Bahari?

Pintu gerbang masuk ke Desa Lero

PAREPARE– Hanya dipisahkan oleh Laut Teluk Pare, Kota Parepare dan Desa Lero seolah berdiri di dua kutub berbeda dalam hal pengelolaan budaya dan pariwisata bahari. Padahal secara geografis, keduanya saling berhadapan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, masyarakat dan pegiat wisata mulai membandingkan semangat dan hasil dari dua wilayah ini.

Desa Lero, yang masuk dalam wilayah Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, adalah sebuah daerah tanjung yang dulunya menjadi persinggahan penting bagi pelaut dan pedagang. Kini, warisan sejarah itu bertransformasi menjadi denyut baru pariwisata berbasis budaya dan partisipasi warga.

Bacaan Lainnya

Festival Sayyang Pattudu dan Lepa-lepa Race yang digelar di Desa Lero bukan hanya meriah, tapi juga menyentuh akar tradisi dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa hari, bukan sekadar seremoni satu malam.

Puluhan ribu pengunjung datang dari berbagai daerah Sulawesi Barat, Kalimantan, Sulawesi Tenggara, serta wilayah Sulawesi Selatan seperti Makassar dan Parepare sendiri. Lero menjadi magnet budaya yang hidup, bukan hanya tontonan.

Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid, saat menghadiri kegiatan tersebut menegaskan dukungan atas pengembangan tradisi budaya di Desa Lero. “Jika budaya bahari ini mampu kita kembangkan, maka desa ini akan menjadi pusat wisata,”ujarnya, Senin, 29 September 2025.

Terpisah, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang sebelumnya berkunjung ke Gorontalo turut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan budaya di Desa Lero. Ia menyampaikan bahwa kekompakan warga adalah modal utama dalam membangun pariwisata berbasis budaya.

“Kami melihat bahwa Desa Lero dengan kekompakan warganya telah menunjukkan bagaimana budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi dan identitas daerah. Ini adalah contoh nyata bahwa pariwisata tidak harus dimulai dari kota besar, tapi dari desa yang bersatu,” ujarnya kepada Kilassulawesi.

Ia menambahkan bahwa Kementerian Pariwisata akan mendukung pengembangan budaya lokal sebagai ikon wisata Indonesia, termasuk melalui program pendampingan, promosi, dan penguatan ekosistem wisata berbasis komunitas.

Festival Megah, Tapi Masih Terjebak Seremoni?

Sementara itu, Kota Parepare menggelar Festival Salo Karajae 2025 dengan dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Provinsi Sulsel. Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, menyampaikan bahwa event ini adalah bukti bahwa Parepare diperhitungkan secara nasional dalam sektor pariwisata.

“Festival Salo Karajae adalah kebanggaan kita bersama. Ini bukti bahwa penyelenggaraan kegiatan bernuansa pariwisata di Parepare diperhitungkan secara nasional,” ujar Tasming, Sabtu, 28 September 2025.

Ia juga menyinggung bahwa Parepare adalah tanah kelahiran Presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie, yang namanya diabadikan melalui Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun, Institut Teknologi BJ Habibie, Masjid Terapung BJ Habibie, dan RSUD Hasri Ainun Habibie.

Namun, di balik kemegahan festival kota, muncul kritik dari masyarakat. Koordinasi antarinstansi yang belum optimal, minimnya pelibatan komunitas, dan anggaran yang belum terintegrasi menjadi sorotan. Banyak yang bertanya, mengapa kota dengan ikon nasional belum mampu menumbuhkan partisipasi lokal seperti di Lero?

“Kegiatan di Parepare bagus, tapi terasa jauh dari warga. Di Lero, kami bukan hanya menonton, kami ikut menari, mendayung, dan menyambut tamu,” ujar Anwar salah satu pengunjung asal Kota Makassar.

Parepare dan Lero adalah cermin dua pendekatan. Satu mengandalkan simbol nasional, satu menghidupkan tradisi lokal. Jika Parepare mampu belajar dari pola kolaboratif Lero, bukan mustahil kota ini akan menjadi magnet wisata budaya bahari yang tak hanya megah, tapi juga bermakna.(*)

Pos terkait