Ramai Event, Ekonomi Parepare Justru Melambat

Data

Pertumbuhan Triwulan III 2025 Turun Tipis Dibanding Tahun Lalu

PAREPARE– Kota yang dikenal sebagai “kota event” menghadapi paradoks. Meski hampir setiap bulan digelar 2 hingga 3 kegiatan besar, laju pertumbuhan ekonomi Parepare justru mengalami penurunan.

Bacaan Lainnya

Data resmi perbandingan laju pertumbuhan ekonomi triwulan III (c-to-c) 24 kabupaten/kota Sulawesi Selatan menunjukkan pada Tahun 2024 Parepare mencatat pertumbuhan 4,39%. Dan tahun 2025, angka itu turun tipis menjadi 4,33%.

Penurunan sebesar 0,06 poin ini memang kecil, namun cukup menimbulkan pertanyaan publik, mengapa geliat event tidak otomatis mengerek pertumbuhan ekonomi?

Pemerhati ekonomi, Prof. Bachtiar Tijang, menuturkan bahwa event memang mendorong sektor perdagangan dan jasa. Namun, ia mengingatkan bahwa sektor sekunder tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan, yang tidak selalu terkait dengan aktivitas event.

“Tidak semua event berdampak signifikan. Banyak kegiatan masih berskala kecil, hanya menyasar pasar lokal. Jika tidak mampu menarik masyarakat dari luar daerah, maka perputaran uang di Parepare tetap terbatas,” ujar Rektor Institut Andi Sapada tersebut.

Meski begitu, Bachtiar mengakui program Kota Event telah membantu penyerapan tenaga kerja dan memperkuat ekosistem UMKM sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Ia menilai destinasi seperti Pantaiku dan Car Free Night berpotensi menjadi daya tarik wisata, sekaligus sarana promosi produk lokal.

Senada, Ketua Demokrat Parepare Rahmat Sjamsu Alam menekankan bahwa skala event menjadi penentu dampak ekonomi. “Event lokal hanya bersifat konsumsi sesaat. Berbeda dengan event regional atau nasional seperti Habibie Cup, yang punya kalender pertandingan jelas dan mampu mendatangkan peserta serta penonton dari luar daerah. Itu yang benar-benar menghidupkan perhotelan, restoran, percetakan, hingga kafe,” ujar mantan Wakil Ketua DPRD Parepare tersebut.

Rahmat menilai event Parepare saat ini masih monoton, dengan jenis dan peserta yang tidak banyak berubah. Ia mendorong variasi kegiatan, seperti rencana IOF Cabang Parepare dalam rangka HUT Kota yang menghadirkan ratusan mobil dan motor dari luar provinsi.

“Event berkalender tahunan, melibatkan organisasi masyarakat, pemuda, olahraga, hingga seni, akan lebih berdampak. Misalnya festival band indie antar pelajar se-Sulsel di Panggung Mattirotasi, jika rutin digelar, bisa mendatangkan ribuan orang dari luar kota,” tambahnya.

Paradoks Parepare menunjukkan bahwa ramainya panggung tidak otomatis berarti ramainya dapur ekonomi. Event memang memberi warna dan geliat sosial, tetapi tanpa skala besar, variasi, dan perencanaan matang, dampaknya pada pertumbuhan ekonomi tetap terbatas. Belum ada penjelasan resmi dari pemerintah kota akan kondisi tersebut.(*)

Pos terkait