Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Prosesi pemakaman Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayor Jenderal TNI (Purn) Salim S. Mengga, berlangsung penuh haru di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu pagi, 1 Februari 2026.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Sulawesi Barat, dan penghormatan negara melalui pemakaman di Kalibata menjadi penanda atas jasa serta pengabdiannya sepanjang hidup.
Tangis Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, pecah saat melepas kepergian sahabat sekaligus orang yang ia tuakan dalam upacara pelepasan jenazah di rumah duka, Cilandak Barat, Jakarta Selatan.
Prosesi pelepasan berlangsung khidmat dengan nuansa militer sebelum jenazah diberangkatkan menuju TMP Kalibata. Dalam suasana penuh haru, Suhardi Duka mengenang almarhum sebagai figur pemimpin yang berintegritas, jujur, dan penuh keteladanan.
“Kami kehilangan orang tua. Sosok yang penuh integritas dan menjadi teladan bagi kami semua. Kami mengiringi kepergian beliau dengan doa. Selamat jalan,” ucapnya dengan suara bergetar.
Ia menegaskan bahwa almarhum bukan hanya rekan kepemimpinan, tetapi juga guru kehidupan. “Beliau adalah teladan kami. Banyak mengajarkan kejujuran, integritas, serta bagaimana memimpin dan menyayangi rakyat dengan baik. Saya, sebagai Gubernur, dan seluruh masyarakat Sulawesi Barat mengucapkan selamat jalan orang tua kami. Jasa, keteladanan, kejujuran, dan integritas yang engkau ajarkan akan kami pegang teguh,” lanjutnya.
Dari Pambusuang ke Kalibata
Salim Mengga lahir di Desa Pambusuang, Polewali Mandar, pada 24 September 1951. Putra dari Sayyid Mengga Alattas, Bupati Polewali Mamasa periode 1980–1990, ini meniti karier panjang di dunia militer hingga mencapai jabatan Pangdam XV/Pattimura (2005–2006). Setelah pensiun, ia terjun ke politik, menjadi anggota DPR RI (2009–2016), dan kemudian dipercaya sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat.
Lebih dari sekadar jabatan, almarhum meninggalkan warisan nilai yang akan terus hidup dalam ingatan masyarakat. Salim Mengga mengajarkan bahwa menjadi besar tidak harus meninggalkan akar.
Justru kebesaran lahir dari kesetiaan pada nilai jujur dalam sikap, santun dalam tutur, dan berani dalam kebenaran. Warisan itu tidak tertulis dalam dokumen kebijakan, tetapi hidup dalam teladan. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi Sulawesi Barat, namun jejak pengabdian dan nilai-nilai yang diwariskan akan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus. (*)






