MAROS – Jembatan Perintis Garuda Merah Putih yang menghubungkan Desa Bontomanurung dan Desa Bontomatinggi, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, diresmikan pada Rabu (3/6/2026).
Kehadiran jembatan tersebut mengakhiri penantian panjang warga, yang selama puluhan tahun bergantung pada penyeberangan sungai menggunakan gondola sederhana dan berjalan kaki melintasi sungai.
Jembatan sepanjang 100 meter dengan lebar 1,3 meter itu dibangun selama empat bulan, mulai Januari hingga Juni 2026.
Pembangunannya dikerjakan oleh TNI Angkatan Darat bersama masyarakat setempat melalui sistem gotong royong.
Peresmian dilakukan langsung oleh Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko bersama Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi.
Turut hadir Bupati Maros Chaidir Syam, Wakil Bupati Maros Muetazim Mansyur, Danrem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clif Rumbayan, Ketua DPRD Sulsel Rahmatika Dewi, Anggota DPRD Sulsel A. Pattarai Amir, serta unsur pemerintah kecamatan dan desa setempat.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilanjutkan dengan pengguntingan pita Jembatan Perintis Garuda Merah Putih, oleh Pangdam XIV/Hasanuddin bersama unsur Forkopimda Sulawesi Selatan.
Bupati Maros Chaidir Syam mengapresiasi pembangunan jembatan yang selama ini sangat dinantikan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan jembatan akan mempermudah akses pendidikan dan mendukung aktivitas ekonomi warga.
“Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi terbangunnya jembatan ini. Sebelumnya warga sangat kesulitan. Dengan adanya jembatan ini, anak-anak lebih mudah menuju sekolah dan aktivitas perekonomian masyarakat menjadi lebih lancar,” kata Chaidir Syam.
Sementara itu, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, mengatakan jembatan tersebut menjadi solusi atas persoalan akses yang dihadapi masyarakat selama puluhan tahun.
Sebanyak 1.623 warga dari dua desa disebut akan merasakan manfaat langsung dari keberadaan jembatan tersebut.
“Masyarakat kedua desa ini selama puluhan tahun belum bisa mengakses jalan yang mudah. Jembatan ini sangat vital karena penerima manfaatnya sekitar 1.623 warga. Ini sangat penting untuk aktivitas masyarakat sehari-hari,” ujarnya.
Bangun menjelaskan, sebelum jembatan berdiri warga harus menyeberangi sungai secara langsung saat musim kemarau. Sementara pada musim hujan, ketika debit air meningkat, warga mengandalkan gondola sederhana yang ditarik menggunakan tali secara manual.
“Kondisi sebelumnya masyarakat harus menyeberang sungai langsung. Saat musim hujan mereka menggunakan gondola yang ditarik dengan tali. Tentu sangat merepotkan dan berisiko. Sekarang akses menjadi jauh lebih aman,” jelasnya.
Kehadiran jembatan tersebut disambut haru oleh warga setempat. Jamilah, salah seorang warga, mengaku masyarakat selama bertahun-tahun harus menghadapi berbagai kendala untuk bersekolah, berbelanja ke pasar, hingga mengangkut hasil pertanian.
“Kalau air sungai besar, anak-anak tidak bisa sekolah dan warga tidak bisa ke pasar. Dulu sebelum ada gondola, banyak yang harus berenang menyeberang sungai. Alhamdulillah sekarang sudah ada jembatan,” tuturnya.
Ia berharap keberadaan jembatan dapat mendorong peningkatan perekonomian masyarakat sekaligus mempermudah akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Diketahui, Jembatan Garuda Merah Putih sebelumnya menjadi perhatian publik setelah kondisi penyeberangan warga menggunakan gondola sederhana sepanjang sekitar 300 meter viral di media sosial.
Kini, jembatan permanen tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat Desa Bontomanurung dan Desa Bontomatinggi.






