KILASSULAWESI.COM,MAKASSAR– Dalam rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sulawesi Selatan yang dipimpin langsung Gubernur Sulawesi Selatan, Prof Nurdin Abdullah yang dihadiri Pangdam XIV/Hasanuddin, Kapolda Sulsel, Pangkoops AU II, Danlantamal VI Makassar, Kabinda Sulsel, Ketua DPRD Sulsel, Kejati Sulsel, Pj. Walikota Makassar, dan Kapolrestabes Makassar. Rapat Forkopimda yang dilaksanakan di Hotel Four Point by Sheraton, di Jalan Andi Jemma, Kota Makassar, Kamis 9 April, menitik beratkan pembahasan tentang percepatan penanganan dan pencegahan wabah Virus Korona (Covid-19) yang saat ini penyebarannya makin meluas. “Yang sakit supaya sembuh dan yang tidak sakit jangan sampai sakit,”tegas Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Andi Sumangerukka, dalam pertemuan tersebut.
Selain itu, dibahas bagaimana langkah ke depan dalam mengantisipasi perkembangan kondisi wilayah menjelang datangnya bulan suci ramadan dan Idul Fitri 1441 H. Pangdam dalam pertemuan itu memberikan beberapa tanggapan terkait penanganan pencegahan penyebaran Covid-19 di Sulsel, dan mempertegas supaya betul-betul bisa memutus mata rantainya.
Pihaknya mengutarakan hal-hal yang yang harus dipahami, bagaimana mekanisme penanganan Covid-19 mulai dari tingkat Provinsi sampai dengan Kabupaten dan Kota hingga pelosok wilayah. “Mekanisme yang ada di gugus tugas ini harus betul-betul dipahami, sehingga semua bisa jalan, saat ini yang sudah ada kita harus perbaiki karena tim yang ada belum jalan sesuai fungsinya,”kata Pangdam. “Kita harus berbicara teknis, apa yang harus kita lakukan, kita harus mengetahui kemampuan kita, kita punya kemampuan tapi ada batas kemampuan, jadi semua itu harus dipahami,”tambahnya.
Pangdam juga mengajak untuk bisa mengevaluasi apa yang terjadi saat ini, sehingga kedepan bisa lebih baik. “Saat ini kita bertindak bagaimana penanganan kepada yang sakit dan bagaimana pencegahan kepada yang tidak sakit, yang sakit supaya sembuh dan yang tidak sakit jangan sampai sakit,”ujarnya. Pada rapat tersebut Pangdam berharap apa yang menjadi pembahasan supaya betul-betul dapat dilaksanakan dan ditindak lanjuti sehingga mata rantai penyebaran Covid-19 ini dapat terputus.
Sebelumnya, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengaku penekanan pada rapat Forkopimda hari ini, diantaranya adalah program jaring pengaman sosial (social safety net). Terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Nurdin menyampaikan bahwa program Jaringan Pengaman Sosial ini yang paling penting, kalau hanya memberlakukan PSBB dan tidak memperhatikan jaringan pengaman ini, itu akan jadi masalah.
Adapun anggaran untuk jaring pengaman sosial berasal dari APBN dan APBD Provinsi serta Kabupaten/Kota. Hal lain yang menjadi penekan adalah perkembangan virus pandemi korona yang saat ini belum mampu ditekan, dimana penyebarannya awalnya hanya di empat kecamatan. “Sekarang sudah menyebar kemana-mana. Oleh karena itu strategi kita adalah pertama kita ingin melakukan social distancing secara masif,”ungkapnya.
Langkahnya, dengan memanfaatkan jaringan unsur pemerintah hingga ke bawah. Misalnya pemkot/pemkab sampai jaringan tingkat RT/RW, dari kepolisian punya jaringan sampai Binmas dan sebagaianya, TNI dengan Babinsa, Danramil. Semua unsur ini untuk disinergikan. Sosialisasi pengunaan masker juga menjadi perhatian, demikian juga dengan hidup bersih, termasuk dengan hal-hal yang meningkatkan imun. Lanjutnya, bahwa banyak pasien COVID-19 yang sembuh tanpa pengobatan dan hanya menjaga kondisi tubuh, tidak stres dan panik.
Ditambahkannya, pada prinsipnya penerapan PSBB di Sulsel sudah berjalan. Dalam PSBB disebutkan, diantaranya, bahwa yang harus dilakukan adalah sekolah atau belajar dari rumah, bekerja dari rumah. Tapi juga disampaikan ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan di rumah. Yang lain soal keramain, terdapat pengecualian seperti pasar dan toko. “Oleh karena itu sebagai langkah antisipasi saat ini, sebelum jadi PSBB, itu langkah akhir kita lakukan. Selama masih ada upaya untuk pencegahan itu dulu kita lakukan,” sebutnya.(*/ade)






