KILASSULAWESI.COM.BARRU — Kondisi kelangkaan pupuk bersubsidi masih menjadi keluhan para petani disejumlah daerah di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Barru pada musim tanam tahun ini. Menyikapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian yang juga mantan Gubernur Sulsel dua periode, Syahrul Yasin Limpo usai melaksanakan panen padi di Kabupaten Barru, Sabtu 20 Maret, lalu.
Saat ditemui wartawan Syahrul Yasin Limpo menyikapi secara tegas soal masih adanya informasi terkait kelangkaan pupuk di masa tanam tahun ini. Padahal, kata Syahrul, stok yang disiapkan sesuai permintaan. “Infonya selalu ada masalah pupuk dibilang kurang, langka. Tapi kalau dicek, rata-rata penggunaan baru 94 persen. Nah, tentu saja, dari delapan juta hektare, ada 100, ada satu desa, atau satu dusun yang bersoal, jangan dianggap semua dong,”tegas Mentan yang akrab disapa Komandan di Sulsel.
Meski demikian, informasi terkait adanya laporan kelangkaan pupuk tersebut tetap diakomodir, dan segera di tindaklanjuti apakah benar mengalami kekurangan atau ada permainan. Mentan menjelaskan, petani yang berhak mendapatkan pupuk subsidi mesti terdaftar pada sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK), kalau tidak terdaftar maka tentu tidak mendapat jatah pupuk bersubsidi.
“Kalau penerima pupuk harus terdaftar di RDKK namanya, dan itu tidak boleh tiba-tiba, harus terdaftar di desa. Bupati usulkan ke provinsi, provinsi seleksi lagi, kalau ada masuk RDKK itu tinggal kita sikapi. Untuk stok saat ini aman,” tuturnya.
Sebelumnya, Kementan telah menambah alokasi pupuk bersubsidi pada tahun 2021 menjadi sebanyak 9 juta ton ditambah 1,5 juta liter pupuk organik cair guna memenuhi kebutuhan petani. “Semoga lebih banyak petani yang bisa memperoleh pupuk bersubsidi. Dan pastinya petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi itu petani yang sudah tercatat di e-RDKK sesuai pengajuan yang diterima Kementan dari usulan pemerintah daerah,”tutup kader Partai NasDem tersebut. (mad/B)






