Kritik yang Membangun: Kunci Komunikasi Etis Masyarakat Parepare

Penulis bersama Wali Kota Parepare

PAREPARE – Kritik bukan sekadar bentuk ketidaksetujuan, tetapi merupakan bagian esensial dari komunikasi yang sehat, khususnya dalam membentuk masyarakat yang lebih terbuka, tanggap, dan berdaya saing.

Namun di tengah budaya timur yang menjunjung tinggi rasa hormat dan keharmonisan sosial, menyampaikan kritik secara terbuka kerap menjadi tantangan tersendiri termasuk di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

Dalam konteks ini, penting kiranya membudayakan cara menyampaikan kritik secara bijak dan membangun, tanpa menyinggung perasaan atau memicu konflik. Hal ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Parepare dalam menciptakan ruang dialog partisipatif yang lebih sehat di tingkat pemerintahan, pendidikan, maupun kehidupan sosial.

“Kami ingin membangun atmosfer pemerintahan dan masyarakat yang terbuka terhadap masukan, namun tetap menjunjung etika komunikasi,” ujar Wali Kota Parepare, Tasming Hamid beberapa waktu lalu kepada media ini.

6 Prinsip Kritik yang Membangun

Berikut enam pendekatan strategis yang direkomendasikan agar kritik dapat diterima dengan lapang dada dan menjadi alat perbaikan bersama:

1. Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat Kritik sebaiknya disampaikan saat suasana kondusif dan secara privat, agar tidak memicu rasa malu atau defensif.

2. Sampaikan Langsung secara Pribadi Berbicara empat mata menciptakan rasa saling menghargai, dibanding menyampaikan lewat grup publik atau media sosial.

3. Fokus pada Fakta dan Bukti Menghindari asumsi dan berbicara berdasarkan data membuat kritik lebih valid dan objektif.

4. Gunakan Bahasa yang Lembut dan Positif Pendekatan dengan bahasa santun dan teknik “sandwich” dapat menjaga keharmonisan dalam menyampaikan kritik.

5. Fokus pada Tindakan, Bukan Pribadi Kritik sebaiknya diarahkan pada tindakan, bukan karakter atau kepribadian seseorang.

6. Berikan Solusi atau Saran Perbaikan Kritik yang disertai saran konkret menunjukkan kepedulian dan komitmen untuk maju bersama.

Relevansi bagi Parepare

Dalam realitas sehari-hari di Parepare, kritik terhadap pelayanan publik, pendidikan, maupun tata kelola kota sering kali muncul, namun belum semua tersampaikan dengan tepat.

Alih-alih menjadi masukan membangun, tak jarang justru menimbulkan polemik di ruang-ruang digital atau percakapan antarwarga.

Kota Parepare yang dikenal sebagai kota jasa dengan mobilitas sosial yang tinggi, membutuhkan ruang-ruang dialog yang lebih inklusif dan etis.

Pembudayaan kritik konstruktif menjadi langkah strategis memperkuat relasi antarmasyarakat dan antara warga dengan institusi pemerintah.(*)

Pos terkait