Rangkaian perayaan ulang tahun ke-57 PT Semen Tonasa yang jatuh tiap tanggal 2 November berlangsung meriah. Dari pengobatan gratis di Desa Biring Ere hingga Fun Bike yang melibatkan ratusan peserta, perusahaan tampak ingin menunjukkan wajah humanisnya kepada publik.
Namun di balik gegap gempita seremoni, suara-suara kritis dari masyarakat Pangkep kembali menyeruak menuntut agar perayaan tak sekadar menjadi panggung pencitraan, melainkan titik balik menuju tanggung jawab sosial yang lebih nyata.
Oleh: Redaksi
Kegiatan sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan Fun Bike tentu patut diapresiasi. Kehadiran jajaran direksi dalam kegiatan tersebut menunjukkan niat baik untuk membangun kedekatan dengan warga. Namun, apakah kedekatan ini cukup untuk menjawab persoalan mendasar yang telah lama menghantui masyarakat sekitar?
Debu batu bara, kebisingan mesin, dan gangguan ekosistem bukanlah isu baru. Aksi damai yang kerap digelar warga menjadi pengingat bahwa polusi bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman terhadap kesehatan dan mata pencaharian warga.
Di tengah semarak ulang tahun, suara-suara ini justru terasa tenggelam. Meski berada di jantung kawasan industri, tidak semua warga Pangkep merasakan manfaat ekonomi dari keberadaan PT Semen Tonasa. Minimnya pelibatan masyarakat lokal dalam program pemberdayaan dan akses kerja menjadi sorotan tajam. Ketika perusahaan tumbuh, warga sekitar justru merasa tertinggal.
Kritik dari Anggota DPR RI Ismail Bachtiar dalam pertemuan dengan jajaran direksi PT Semen Indonesia menggambarkan kekecewaan yang mendalam. Sentralisasi strategi di Jakarta, nasib pekerja outsourcing yang terancam PHK, dan transparansi CSR yang dipertanyakan semuanya menunjukkan bahwa relasi antara perusahaan dan masyarakat masih jauh dari ideal.
Kemitraan strategis PT Semen Tonasa dengan Pemerintah Kabupaten Pangkep untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif adalah langkah maju menuju industri yang lebih ramah lingkungan. Namun, tanpa pengawasan publik yang kuat, program ini berisiko menjadi sekadar formalitas.
Ulang tahun bukan hanya soal perayaan, tetapi juga refleksi. Di usia ke-57, PT Semen Tonasa memiliki kesempatan emas untuk menyusun ulang komitmen sosialnya. Beberapa langkah yang bisa menjadi titik awal:
– Menyusun roadmap keberlanjutan yang inklusif dan transparan, melibatkan masyarakat dalam prosesnya.
– Meningkatkan partisipasi warga dalam program CSR, pelatihan kerja, dan pengambilan keputusan lokal.
– Menjalin kemitraan strategis yang tidak hanya formal, tetapi juga fungsional dengan pemerintah daerah, komunitas, dan lembaga pengawas independen.
Muhammad Arsyad Yunus, tokoh pemuda Pangkep, menyampaikan harapan agar perayaan HUT tidak menjadi selimut bagi persoalan yang belum terselesaikan. Harapan ini bukan sekadar kritik, tetapi undangan bagi PT Semen Tonasa untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya kokoh dalam produksi, tetapi juga dalam komitmen sosial.
Jika perusahaan mampu menjawab tantangan ini dengan langkah nyata, maka usia ke-57 bukan hanya menjadi angka, tetapi awal dari babak baru yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.(*)






