Skandal Beras SPHP: Ratusan Karung Bulog Dibuang, Dugaan Repacking Menguat di Parepare

Kasat Reskrim AKP Muhammad Saleh..

PAREPARE– Ratusan karung beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bertuliskan Perum Bulog ditemukan berserakan di pinggir jalan Kelurahan Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki, Kamis, 23 Juli 2026.

Temuan mencolok ini langsung memicu dugaan adanya praktik pengoplosan atau pengemasan ulang beras SPHP ke dalam merek lain untuk dijual dengan harga lebih tinggi.

Bacaan Lainnya

Karung-karung itu terlihat masih bersih dan layak, sebagian ditumpuk dalam karung putih, sebagian lagi berserakan di tepi jalan. Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah beras subsidi yang seharusnya meringankan beban rakyat kecil justru dijadikan komoditas bisnis oleh oknum tertentu?

Satreskrim Polres Parepare bergerak cepat. Kasat Reskrim AKP Muhammad Saleh menegaskan pihaknya tengah memeriksa sejumlah Rumah Pangan Kita (RPK), mitra resmi Bulog dalam penyaluran beras SPHP. “Kami melakukan penyelidikan dan pengecekan di RPK rekanan Bulog di Parepare,” ujarnya, Jumat, 24 Juli 2026.

Bulog sendiri tak menutup mata. Kepala Cabang Perum Bulog Parepare, Rahmi Mangerang, mengakui adanya indikasi oknum masyarakat membeli beras SPHP dalam jumlah besar lalu mengemas ulang untuk dijual kembali.

“Sepertinya mereka mengumpulkan beras SPHP dari mitra pelaksana di pasar, lalu mengemas ulang untuk dijual dengan harga lebih tinggi. Indikasinya seperti itu,” jelasnya.

Bulog mencatat penyaluran beras bantuan pangan dan SPHP di Parepare–Barru mencapai 700 ton per bulan, dengan sekitar 100 RPK aktif. Fakta temuan karung bekas ini menimbulkan kecurigaan bahwa sebagian distribusi beras subsidi telah bocor ke pasar komersial.

Hingga kini, polisi masih mendalami apakah praktik tersebut sekadar pelanggaran etika distribusi atau sudah masuk ranah pidana. Publik menunggu jawaban, apakah beras murah untuk rakyat kecil benar-benar sampai ke tangan yang berhak, atau justru dijadikan ladang bisnis oleh segelintir oknum?

Pos terkait