Seketika air merendam Parepare. Hanya hitungan menit. Deras air beberapa hari turun dengan sangat sunyi menjelma hujan dari langit, dan ketika jatuh menyentuh atap atau jua bangunan beton lainnya pun air menjadi riuh. Tak hanya berhenti ketika mendapati aliran, air mencari celah jalan yang dahulu memang telah menjadi jalurnya dan kita rebut atas nama penghargaan, eits… atas nama cinta.
Oleh:
Ibrah La Iman
Sepertinya memang hujan turun di beberapa kawasan dan rara-rata daerah-daerah juga mengalami banjir ataupun bertambahnya debit air yang mengakibatkan ruas arus rusak, rumah penduduk hancur, dan ataupun kejadian mengelisahkan lainnya. Namun secara khusus saya hendak membincangkan Parepare yang sangat bisa menjadi contoh tak terjadinya bencana-bencana dengan mengusahakan sebaik-baik berkehidupan selaras bersama alam semesta.
Einstein dalam suatu waktu pernah menyangga gurunya yang menyatakan bahwa Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk kejahatan. Lantas Albert Einstein yang menjadi legenda itu di masa kecilnya menyampaikan pandangan kepada gurunya dengan bertanya; “Apakah gelap itu ada?” semua terdiam dan Einstein menerangkan “Gelap itu tak ada, hal itu hanyalah keadaan ketika tak adanya cahaya yang menerangi.
Bagi Einstein sama halnya dengan kejahatan sama sekali tidak diciptakan oleh Tuhan, tapi manusia lupa atas kasih sayang yang telah sampai kepadanya tapi tak ia pancarkan kepada seluruh alam.
Sampah-sampah pada sepanjang pesisir laut Mallusetasi di Parepare naik ke lantai-lantai bumi dan seolah hendak menyampaikan dengan tegas “taniaka onroang waroppo iye'”. Sudah waktunya memang ada kesadaran bersama yang dibersamai dengan kebijakan tentang pentingnya menjaga laut dengan menyediakan penyapu laut dan kalau perlu persiapkan pos-pos satuan aparat untuk bertugas menindak bagi pembuang-pembuang sampah ke laut.
Begitupan jua luapan air mengisi jalanan protokol kota yang otomatis mematikan aktivitas dan memberikan dampak praktis terhadap ekonomi serta hal-hal terkait. Sekarang kita masih merasakan air dapat surut sehari-dua hari atau baru merusak jalan ataupun tanggul namun tiada yang dapat memastikan bisa jadi esok lusa air itu akan menetap sebulan dua bulan mengambil apa yang telah jadi haknya bila terus menerus kita hendak mendaratkannya (reklamasi) dan tak berhenti menanam beton.
Kelapaan kita hidup bersama dengan alam semesta tak perlu dengan konsep megah namun bisa melalui hal-hal sederhana setidak-tidaknya lahir kebijakan memihak terhadap pelestarian bukan ikut merusak apalagi sebagai stakeholders. Paling realistis dengan kondisi Kota Parepare sangat masuk akal untuk memfasilitasi terbuang dan terkelolahnya sampah dengan baik sebelum jauh membahas bagaimana proses pelestarian alam yang selalu hanya jadi hiburan seremonial.
Tentu saja bukan pekerjaan mudah dan perlu keseriusan juga perhatian, tapi memperhatikan begitu serius perhatian dan mudahnya Penguasa meraih penghargaan yang telah ratusan saya kira penanganan ini bisa juga dilakukan sedemikian rupa.
Bila dapat teratasi dampak ke sektor Kesehatan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Sosial Politik, ataupun yang menjadi cita-cita luhur penguasa yakni Kota Industri Tanpa Cerobong Asap dapat tercapai dengan bahagia sentosa, penghargaan yang tersematkan tidak akan berupa kertas dalam bingkai tapi betul-betul cinta dari hati rakyat-rakyat yang sering kali Penguasa akui di hadapan khalayak dan juga Tuhan Yang Maha Menyaksikan.(*)






