MAJENE— Warga Desa Popenga, Kecamatan Ulumanda, kembali menyuarakan keresahan mereka terhadap lambannya pembangunan di wilayah terpencil tersebut. Meski dikenal sebagai desa terluas dengan potensi hasil bumi yang melimpah, aksesibilitas ke Popenga masih sangat terbatas akibat kondisi jalan berlumpur yang tak kunjung diperbaiki.
Keluhan warga tak hanya soal infrastruktur. Program percetakan sawah yang digulirkan sejak 2024 juga menjadi sorotan. Meski telah direalisasikan anggaran sebesar Rp852 juta pada Desember 2024, hingga kini pengerjaan belum rampung.
Target awal mencakup 300 Kepala Keluarga (KK), namun realisasi tahap pertama hanya menyentuh 52 KK dari rencana 150 KK. Warga menduga sebagian pekerjaan ditutup menggunakan anggaran tahun 2025, tanpa kejelasan progres maupun pertanggungjawaban.
“Kami ingin memastikan apa kendala program ini. Jangan sampai ada dugaan kerugian negara. Karena selama ini, masyarakat hanya diberi janji tanpa kejelasan,” tegas Muhammad Sukur, mahasiswa asal Popenga, Senin, 8 September 2025.
Ia menyatakan akan menggalang konsolidasi bersama mahasiswa lain untuk mendesak transparansi dan evaluasi program.
Sukur juga menyoroti tidak adanya baliho Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang seharusnya terpampang di ruang publik sesuai ketentuan perundangan. Ketiadaan informasi ini dinilai memperkuat kecurigaan masyarakat terhadap pengelolaan anggaran desa.
Tokoh masyarakat Popenga menyampaikan bahwa sejak 2024, telah dilakukan berbagai upaya penyelesaian secara kekeluargaan dan adat oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Namun, hingga kini belum ada solusi konkret dari Penjabat (PJ) Kepala Desa, baik yang lama maupun yang baru.
“Kami harus menuntut hak kami. Kami menolak kebijakan yang seakan menimbun masalah lama. PJ Desa Popenga yang baru harus tegas dan memberikan solusi yang rasional,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Warga berharap suara mereka tak hanya didengar oleh Pemerintah Kabupaten Majene dan Provinsi Sulawesi Barat, tetapi juga oleh Presiden Prabowo Subianto. Mereka meminta perhatian lebih agar pembangunan di desa terpencil bisa dirasakan secara nyata.
“Popenga adalah bagian dari Indonesia. Kami setia pada bangsa, tetapi jangan biarkan kami terus menunggu di tengah keterbatasan,” pungkasnya.(*)






