Hiu Paus Botubarani: Antara Atraksi Wisata dan Amanat Konservasi

GORONTALO— Desa Botubarani kembali menjadi sorotan nasional. Bukan hanya karena kehadiran hiu paus raksasa yang bersahabat, tetapi juga karena komitmen serius pemerintah dalam menjaga kelestariannya. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan bahwa pengembangan wisata hiu paus harus berpijak pada prinsip konservasi dan keberlanjutan.

Dalam dialog terbuka bersama masyarakat dan pelaku wisata lokal, Wamenpar menyampaikan bahwa hiu paus bukan sekadar atraksi, melainkan simbol ekosistem laut yang sehat. “Pesan Bu Menteri Pariwisata jelas: kita harus menjaga area konservasi dan kelestarian hiu paus agar daya tarik wisata ini tetap ada di masa depan,” tegasnya.

Bacaan Lainnya

Wisata Ramah Satwa

Sejak kemunculannya di perairan Botubarani pada 2016, hiu paus telah menjadi magnet wisatawan. Keistimewaannya? Bisa dilihat dari bibir pantai, bahkan lebih dekat lewat perahu nelayan, paddleboard, atau perahu transparan yang dilengkapi drone untuk foto udara. Namun, di balik pesona itu, ada tantangan besar menjaga kenyamanan satwa dan habitatnya dari gangguan manusia.

Wamenpar mengajak wisatawan untuk berperilaku bertanggung jawab: menjaga jarak aman, tidak memberi makan langsung, dan tidak mencemari laut. “Wisata alam bukan hanya soal menikmati, tapi juga soal menjaga,” ujarnya.

Tak ingin Botubarani hanya bergantung pada hiu paus, Wamenpar mendorong inovasi atraksi tambahan. “Perlu pengalaman baru agar wisatawan tidak hanya datang untuk satu hal. Budaya, kuliner, edukasi lingkungan—semua bisa jadi daya tarik,” katanya.

Ketua Pokdarwis Botubarani, Wahab Matoka, menyambut baik gagasan ini. Ia berharap jumlah wisatawan bisa meningkat, bahkan menyamai Bali, tanpa kehilangan identitas lokal. “Kami ingin wisata di sini berbeda dari Bali, tapi pengunjungnya bisa setara,” ujarnya optimis.

Wahab juga mengusulkan pengadaan rumpon plankton sebagai feeding ground alami. “Dengan banyak plankton, hiu paus akan lebih sering datang. Ini penting untuk kesinambungan atraksi,” tambahnya.

Selain Botubarani, Wamenpar juga mengunjungi Desa Wisata Religi Bubohu Bongo dan meninjau fasilitas toilet bersih di Pantai Dulanga. Kunjungan ini menegaskan bahwa pengembangan destinasi di Gorontalo tidak hanya fokus pada satu titik, tetapi menyeluruh dan terintegrasi.

Didampingi Deputi Hariyanto dan Staf Ahli Masuroh, Wamenpar menyatakan komitmen Kemenpar untuk terus berkoordinasi dengan Pemda Bone Bolango dalam merumuskan langkah konkret pengelolaan wisata berbasis alam.(*)

Pos terkait