Mentan Andi Amran Sulaiman Paparkan Keberhasilan Pertanian Indonesia di Hadapan Menteri Jepang

Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Eto Taku bersalaman dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Eto Taku Apresiasi Kemajuan Sektor Pertanian Indonesia

JAKARTA– Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menerima kunjungan Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Eto Taku, dalam sebuah pertemuan bilateral yang membahas strategi menghadapi tantangan perubahan iklim. Mentan Amran memaparkan berbagai terobosan yang telah dilakukan Indonesia guna meningkatkan produksi pertanian, khususnya di sektor padi.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 29 April 2025. Mentan Amran menjelaskan bahwa Indonesia berhasil mencatat lonjakan produksi sebesar 62 persen pada periode Januari hingga Maret 2025. Peningkatan ini dicapai melalui berbagai inovasi, termasuk pemanfaatan teknologi modern dan pengembangan varietas unggul yang adaptif terhadap kondisi lingkungan ekstrem.

Bacaan Lainnya

“Kita telah mengembangkan varietas tahan kekeringan, seperti padi gogo, yang mampu bertahan dengan sedikit air. Selain itu, di lahan rawa, kami memanfaatkan varietas unggul padi Inpara yang dapat meningkatkan produktivitas dari 3 ton per hektare menjadi 5–7 ton per hektare,” ujar Amran.

Indonesia juga mengembangkan varietas Biosalin untuk lahan pesisir yang terdampak intrusi air laut. “Kami berkomitmen menciptakan varietas yang dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi, baik kekeringan maupun kadar garam tinggi, sebagai upaya menghadapi perubahan iklim global,” tambahnya.

Lebih lanjut, Mentan Amran menekankan pentingnya program pompanisasi dalam meningkatkan produksi padi nasional. “Biasanya petani menanam sekali, dengan pompanisasi, mereka bisa tanam dua hingga tiga kali dalam setahun,” katanya.

Selain keberhasilan di sektor teknologi pertanian, Mentan Amran juga menyoroti peran generasi muda dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian. “Kami mendorong generasi milenial dan generasi Z untuk terlibat dalam pertanian berbasis teknologi. Kami ingin menunjukkan bahwa bertani jauh lebih menguntungkan dibandingkan menjadi pegawai,” jelasnya.

Langkah konkret pemerintah dalam mendukung petani turut menjadi faktor utama keberhasilan ini. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, penyaluran pupuk bersubsidi disederhanakan, serta harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dinaikkan menjadi Rp6.500 per kilogram guna meningkatkan kesejahteraan petani.

Keberhasilan yang dipaparkan Mentan Amran mendapat apresiasi dari Menteri Eto Taku. Ia menyebutkan bahwa langkah-langkah yang telah diambil Indonesia dalam memitigasi dampak perubahan iklim dan meningkatkan produksi pertanian dapat menjadi contoh bagi Jepang.

“Bapak Menteri Pertanian Indonesia telah mengambil inisiatif dan melakukan berbagai upaya. Indonesia berhasil meningkatkan produksi 62 persen, dan ini merupakan contoh baik yang bisa ditiru oleh masyarakat Jepang,” ujar Eto Taku.

Pertemuan ini menandai kerja sama erat antara Indonesia dan Jepang dalam sektor pertanian, serta membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.(*)

Pos terkait