Harga Beras Dunia Terperosok: Momentum Baru bagi Indonesia?

JAKARTA– Harga beras internasional mengalami kejatuhan tajam sejak awal 2024, dipicu oleh keputusan India eksportir beras terbesar dunia untuk mencabut seluruh pembatasan ekspornya. Efeknya terasa di seluruh Asia, dengan harga beras parboiled India mencapai titik terendah dalam 22 bulan, sementara harga beras Thailand dan Vietnam menyentuh level terendah dalam 3–5 tahun terakhir.

Namun, menurut Asosiasi Eksportir Beras India, harga kini diperkirakan mencapai titik dasar di kisaran US$390 per ton untuk beras 5% patah, dan tidak akan banyak bergerak sepanjang 2025. Kelebihan pasokan global menjadi faktor utama dalam stagnasi ini, dengan proyeksi produksi dunia mencapai 543,6 juta ton, jauh melampaui estimasi konsumsi global yang hanya 539,4 juta ton.

Bacaan Lainnya

Di tengah tren kejatuhan harga dan persaingan ketat antar eksportir utama, Indonesia justru muncul sebagai anomali. Selama ini dikenal sebagai importir besar, Indonesia kini mencatat lonjakan produksi yang mengejutkan. Produksi beras nasional periode Januari–Mei 2025 mencapai 16,62 juta ton, naik 12,4% dari tahun sebelumnya.

Bahkan, proyeksi Badan Pusat Statistik menunjukkan total produksi gabah Indonesia pada 2025 bisa mencapai 28,85 juta ton, sementara USDA memperkirakan lebih tinggi, yakni 34,6 juta ton.

Situasi ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor baru. Stok beras Indonesia kini mendekati 5 juta ton, angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, memberi ruang bagi negara untuk merambah pasar ekspor secara lebih agresif.

Dalam kondisi oversupply, beberapa negara Asia Tenggara mulai mengalihkan pandangan ke Indonesia sebagai alternatif sumber beras. Malaysia telah menyatakan minat untuk mengimpor dari Indonesia, menyusul krisis pasokan yang mereka hadapi. Singapura pun meningkatkan impor hingga 22,8%, termasuk dari Indonesia.

Kemendag mengonfirmasi bahwa Indonesia telah mengekspor beras premium dan eksotis ke Malaysia, Singapura, serta negara ASEAN lainnya. Momentum ini bisa menjadi awal bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar di peta perdagangan beras regional.

Meski memiliki potensi ekspor yang besar, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memastikan konsistensi produksi, stabilitas iklim, logistik yang efisien, serta diplomasi dagang yang kuat. Pemerintah, melalui Menteri Pertanian Amran Sulaiman, menegaskan bahwa prioritas utama tetap menjaga ketahanan pangan nasional, sebelum ekspor diakselerasi lebih jauh.

Sementara eksportir utama dunia seperti India, Thailand, dan Vietnam berebut pangsa pasar dalam kondisi kelebihan pasokan, Indonesia justru memiliki momentum langkauntuk membangun pijakan baru sebagai pemain regional. Dengan produksi yang meningkat dan cadangan beras yang solid, Indonesia berpeluang mengubah perannya dari importir menjadi pemain ekspor utama dalam lanskap beras global.(*)

Pos terkait