Di balik barisan kantor pemerintahan di Jl. Ganggawa yang kini ditempati KONI, Kesbangpol, Dinas Kesehatan, PJU, Damkar, dan Perkimtan terhampar satu hektare tanah bersejarah yang dulunya menjadi pusat pelayanan kesehatan pertama di Kota Parepare.
Rumah Sakit Umum yang mulai dibangun pada 1924 dan rampung pada 1926 ini pernah menjadi simbol modernisasi medis di masa kolonial. Dua dokter yang mengabdi kala itu, dr. Debats asal Belanda dan dr. Maani dari Pakistan, menjadi pelopor layanan kesehatan bagi warga Parepare saat itu.
CATATAN: Ade Cahyadi
Namun kisah berlanjut tak kalah dramatis. Konon, di bawah permukaan tanah lokasi tersebut, tersimpan jalur bawah tanah berupa bunker yang diyakini menghubungkan langsung ke Rumah Jabatan Wakil Wali Kota Parepare.
“Iya, di sini ada bunker yang konon tembus ke rujab Wakil Wali Kota, yang berdekatan dengan area cagar budaya berupa bekas tahanan Belanda. Bahkan itu kabarnya ada tertulis di Kitab La Galigo. Dan belum ada yang berani mengungkap tabir tersebut,” ungkap Fadli Agus Mante kepada penulis saat berbincang di kantor KONI Parepare.
Sayangnya, alih-alih menjadi situs edukatif atau objek wisata sejarah, kawasan ini justru terlihat lusuh dan kurang terawat. Upaya rehabilitasi pun kabarnya terganjal statusnya sebagai cagar budaya, yang ironisnya justru membuatnya ‘membeku’ dalam ketidakpastian.
Pakar sejarah dan pegiat budaya lokal menilai, pelestarian tak cukup hanya dengan label formal. Yang lebih penting adalah bagaimana narasi dan nilai sejarah itu tetap hidup dan memberi makna di masa kini.
Dari ruang rawat pionir kesehatan, lorong bunker beraroma konspirasi kolonial, hingga deretan kantor pemerintahan masa kini lokasi ini menyimpan lapisan cerita yang siap dihidupkan kembali. Pertanyaannya, beranikah kita menggali kembali sejarah dan merangkainya menjadi warisan kebanggaan?
(BERSAMBUNG)






