BARRU — Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H, Kementerian Agama Kabupaten Barru bersama Pengurus dan Jamaah Masjid Agung Nurul Iman menggelar kegiatan penuh makna khataman Al-Qur’an, zikir, doa bersama, dan tausiyah keagamaan.
Bertajuk “Dengan Semangat Hijrah, Kita Wujudkan Komitmen Damai Bersama Manusia dan Alam”, acara ini selaras dengan tema nasional Kemenag RI tahun ini, “Peaceful Muharram.”
Momentum ini tak hanya menjadi bentuk perayaan, melainkan juga refleksi spiritual yang membangkitkan semangat hijrah secara kolektif. Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh penting lintas instansi, mulai dari Kakan Kemenag Barru, Dr. H. Jamaruddin, hingga perwakilan pemerintah daerah, TNI-Polri, perbankan, BAZNAS, tokoh agama, dan jamaah haji tahun 2024 dan 2025.
Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an secara berjamaah, kemudian berlanjut dengan zikir dan doa untuk keselamatan bangsa dan keberkahan tahun baru Islam.
Dalam sambutannya, Kakan Kemenag Barru menekankan bahwa Tahun Baru Islam tidak seharusnya dimaknai sekadar seremonial. “Ini momentum muhasabah dan tekad baru. Semangat hijrah Nabi bukan hanya berpindah tempat, tapi berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari keburukan menuju perbaikan,” ujarnya penuh semangat.
Ia menambahkan, khusus bagi ASN Kemenag, semangat hijrah harus terwujud dalam integritas, profesionalitas, dan loyalitas dalam pelayanan umat. “Kita adalah penjaga nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dan agen moderasi beragama di masyarakat,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Kabag Kesra Setda Barru, Dr. H. Irham Jalil, M.Ag., M.Pd., yang mewakili Wakil Bupati Barru. Ia mengapresiasi kekuatan sinergi dalam kegiatan ini. Menariknya, ia sempat berseloroh bahwa dirinya pernah ingin bergabung dengan Kemenag, namun belum berjodoh. “Mungkin karena dulu saya demonstran,” canda Irham yang disambut tawa jamaah.
Puncak acara ditandai dengan tausiyah inspiratif dari Guru Besar UIN Alauddin Makassar sekaligus pengurus MUI Sulsel, Prof. Dr. H. Darussalam Syamsuddin, M.Ag. Ia menegaskan bahwa hijrah adalah perubahan fisik dan mental yang menyeluruh, mencakup aspek spiritual, sosial, hingga lingkungan hidup.
“Hijrah Nabi ke Madinah tak hanya mengubah nama kota dari Yasrib, tapi juga menata ulang peradaban. Itulah Madinatul Munawwarah: kota beradab yang diterangi cahaya ilahi,” jelasnya.
Prof. Darussalam juga menekankan urgensi ibadah sosial dalam Islam. “Puasa bisa diganti fidyah, tapi korupsi tidak bisa ditebus dengan tahajjud seribu rakaat,” tegasnya. Ia mengajak umat Islam untuk lebih aktif dalam ibadah sosial seperti membersihkan masjid dan membantu sesama, karena dampaknya lebih luas.
Sebelum menutup tausiyahnya, ia menyerukan semangat kolektif dalam membangun peradaban. “Jangan hanya sibuk isi saf, tapi pastikan saudaramu juga punya tempat. Mari masuk surga bersama-sama,” ujarnya penuh makna.
Acara ditutup dengan suasana khidmat dan haru, menandai tahun baru Islam sebagai langkah awal menuju perubahan yang lebih baik bagi diri, masyarakat, dan semesta.(*)






