Kementerian Ekraf Usulkan Tambahan Anggaran Rp 2,24 Triliun untuk Perkuat Ekonomi Kreatif Daerah

Kementerian Ekonomi Kreatif dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta

JAKARTA– Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Komisi VII DPR RI menggelar rapat kerja membahas rencana kerja dan anggaran tahun 2026, sekaligus merefleksikan capaian setahun terakhir melalui tema “Setahun Bekerja, Bergerak Berdampak”.

Rapat ini menjadi momentum strategis untuk menegaskan peran ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional yang berakar dari daerah.

Bacaan Lainnya

Dalam pemaparan Indikator Kinerja Utama (IKU) 2025–2029 yang merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Kemenparekraf menetapkan empat target utama peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), nilai ekspor, serapan tenaga kerja, dan investasi. Pada 2024, PDB sektor ekraf tumbuh 5,69 persen dan ditargetkan mencapai 6,12 persen pada 2029.

Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengungkapkan bahwa tren investasi menunjukkan kepercayaan yang semakin tinggi terhadap ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi asing terbesar pada Semester I 2025 berasal dari Singapura dengan nilai Rp 18,65 triliun. Sementara itu, DKI Jakarta mencatat lonjakan investasi domestik dari Rp 18,14 triliun (2024) menjadi Rp 25,97 triliun (2025).

“Total investasi sektor ekraf hingga Semester I 2025 telah mencapai Rp 90,12 triliun, melampaui capaian tahun sebelumnya sebesar Rp 64,22 miliar. Target jangka menengah kami berada di kisaran Rp 152,3 hingga Rp 183,7 triliun pada 2029,” ujar Teuku Riefky.

Optimisme juga tercermin dari kinerja ekspor. Berdasarkan data Bea Cukai yang diolah Kemenparekraf, ekspor sektor ekraf mencapai USD 25,1 miliar pada 2024 dan telah menyentuh USD 13 miliar di Semester I 2025.

Proyeksi ekspor pada 2029 diperkirakan menembus USD 33 miliar. Sub-sektor fesyen mendominasi ekspor dengan USD 7,09 miliar, diikuti kriya (USD 5,01 miliar) dan kuliner (USD 767 juta). Pengiriman ke pasar non-tradisional seperti Swiss, Jepang, dan Uni Emirat Arab juga meningkat signifikan, antara 5,7 hingga 19,14 persen.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ekraf telah menyerap 26,5 juta tenaga kerja pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 27,7 juta pada 2029.

Melihat tren positif ini, Kemenparekraf mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 2,24 triliun untuk mendukung program prioritas seperti Pemberdayaan Desa Kreatif, penguatan Industri Kriya dan Kuliner untuk UMKM, penyelenggaraan Event dan Festival Lokal, serta Program Inklusif dan Sosial.

“Kami mengharapkan dukungan teknis dan fiskal yang sepadan agar pelayanan publik dan program ekraf berjalan optimal. Sektor ini harus menjadi mesin baru pertumbuhan nasional yang dimulai dari daerah,” tegas Teuku Riefky.

Usulan anggaran tersebut mendapat persetujuan dari Komisi VII DPR RI. Pimpinan rapat, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menekankan pentingnya alokasi anggaran yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

“Pembahasan anggaran bukan sekadar angka, tapi soal manfaat nyata. Ekraf harus diperkuat agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Rapat kerja ini turut dihadiri oleh Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Parataonan, Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni, Wakil Ketua Komisi VII Chusnunia Chalim, serta jajaran pejabat eselon Kemenparekraf dan Kementerian UMKM.(*)

Pos terkait