BARRU— Sikap arogan yang ditunjukkan Kapolsek Mallusetasi AKP Iriansyah saat peninjauan tambang galian C di Kelurahan Mallawa, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, memicu sorotan tajam dari masyarakat dan insan pers. Alih-alih meredam ketegangan akibat keluhan warga, AKP Iriansyah justru bersikap keras dan membentak wartawan yang tengah meliput kegiatan tersebut.
Insiden tersebut kini viral di media sosial, Kamis, 16 Oktober 2025. Potongan video yang merekam momen AKP Iriansyah membentak awak media beredar luas di berbagai platform digital, memicu gelombang kritik dari netizen dan masyarakat Barru. Banyak yang menyayangkan sikap tidak komunikatif dan tidak empatik dari seorang pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan.
Tindakan itu dinilai mencederai semangat polisi humanis yang selama ini dibangun oleh Kapolres Barru AKBP Ananda Fauzi Harahap, S.I.K., M.H. Sosok Kapolres Barru dikenal luas sebagai pemimpin yang ramah, komunikatif, dan dekat dengan masyarakat. Melalui berbagai konten kreatif di media sosial, AKBP Ananda kerap tampil dalam kegiatan olahraga bersama warga, promosi pariwisata daerah, hingga video ringan yang menyampaikan pesan moral tentang pelayanan publik dan keteladanan aparat.
Dalam unggahan akun resmi Ananda.f.harahap pada 8 September 2025, AKBP Ananda memimpin apel pagi di Mapolres Barru yang dihadiri seluruh jajaran, termasuk para Kapolsek. Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya menjaga sikap, kedisiplinan, dan etika pelayanan terhadap masyarakat. “Selalu jaga sikap tampang, tingkatkan kedisiplinan, dan layani masyarakat dengan baik,” tegas AKBP Ananda.
Sayangnya, semangat tersebut tampak tidak diinternalisasi oleh Kapolsek Mallusetasi. Sikapnya yang dinilai arogan dan tidak komunikatif saat kunjungan lapangan justru menjadi antitesis dari citra polisi modern yang tengah dibangun.
Respons Publik: Keteladanan Harus Diikuti, Bukan Dikhianati
Sejumlah warga dan tokoh masyarakat Mallawa menyayangkan perilaku AKP Iriansyah. Mereka menilai bahwa tindakan arogan di lapangan tidak hanya mencoreng nama pribadi, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi Polri, khususnya Polres Barru yang selama ini dikenal progresif.
“Kapolres sudah membangun contoh bagus, disiplin tapi santai, tegas tapi sopan. Kalau bawahannya arogan, itu bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi,” ujar salah satu warga.
Masyarakat berharap agar pimpinan Polres Barru segera melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap AKP Iriansyah, agar kejadian serupa tidak terulang dan semangat polisi humanis tetap terjaga.
Polisi Humanis: Tuntutan Zaman, Bukan Sekadar Slogan
Di era keterbukaan informasi dan media sosial, perilaku aparat kepolisian mudah terekam dan menjadi konsumsi publik. Karena itu, sikap profesional, empatik, dan santun bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan.
Citra Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kebijakan institusional, tetapi juga oleh tutur kata dan sikap di lapangan. Keteladanan yang ditunjukkan AKBP Ananda Fauzi Harahap menjadi bukti bahwa pendekatan humanis bisa berjalan beriringan dengan ketegasan dan disiplin.
Namun, untuk menjaga konsistensi citra tersebut, seluruh jajaran kepolisian di daerah harus mampu meneladani gaya kepemimpinan yang santun dan komunikatif. Satu tindakan arogan bisa merusak kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah.(*)






