MAMUJU — Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka melakukan peninjauan langsung terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dua titik layanan, yakni Sentra SPPG Simboro dan SMK Negeri 1 Mamuju. Dalam kunjungannya, Gubernur didampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulbar Abdul Waris Bestari dan Tenaga Ahli Gubernur Hajrul Malik.
Peninjauan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Pemprov Sulbar dalam memastikan kualitas dan keberlanjutan program MBG yang menyasar pelajar dan masyarakat rentan. Gubernur Suhardi Duka bahkan mencicipi langsung menu yang disajikan oleh relawan SPPG, sebagai bentuk uji rasa dan kontrol mutu pangan.
“Saya ingin memastikan bahwa makanan yang disajikan benar-benar bergizi, aman, dan layak konsumsi. Ini bukan sekadar program, tapi bagian dari upaya kita membangun generasi sehat dan cerdas,” ujar Suhardi.
Sebelumnya, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Sulbar dr. Nursyamsi Rahim menegaskan bahwa pihaknya memiliki tanggung jawab penting dalam menjamin keamanan pangan yang disalurkan melalui program MBG. Ia menyebut, pengawasan terhadap SPPG dilakukan secara intensif untuk mencegah insiden seperti keracunan makanan yang pernah terjadi di Tapalang.
“Peran kami bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga mitra pembinaan. Kami ingin memastikan bahwa pelayanan makanan bergizi kepada masyarakat benar-benar aman, sehat, dan berkualitas,” kata dr. Nursyamsi.
Ia menambahkan, sebelum beroperasi, setiap SPPG wajib memenuhi persyaratan ketat, termasuk pelatihan penjamah makanan bagi relawan dan staf. Pelatihan ini menjadi syarat utama dalam penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sebagai jaminan bahwa standar kebersihan dan keamanan pangan telah terpenuhi.
Program MBG merupakan bagian dari visi besar Pemprov Sulbar di bawah kepemimpinan Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga, yakni “Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera”. Sinergi antara pemerintah daerah, yayasan penyelenggara, dan relawan menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami yakin MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi model pelayanan sosial yang aman dan berkelanjutan,” pungkas dr. Nursyamsi.(*)






