Gerak Jalan HUT RI, Barisan SDIT dan SMPIT Andalusia Wujudkan Solidaritas ke Palestina

Direktur Andalusia Institut, HA Rahman Saleh bersama sejumlah tenaga pendidik dan siswa Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Andalusia usai mengikuti gerak jalan HUT Kemerdekaan RI

PAREPARE, KILASSULAWESI—Dukungan akan kemerdekaan rakyat palestina tergambarkan pada generasi muda dengan jargon “Stand With Palestina”. Hal itu pun mendapat apresiasi dari warga dari ratusan peserta barisan gerak jalan dalam rangkaian HUT Kemerdekaan RI Ke-79 di Kota Parepare.

Pelajar dari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Andalusia dengan seragam dan kekompakannya mendapat apresiasi yang dinilai sebagai
bentuk syiar sekaligus bentuk dukungan moril Anak Bangsa Indonesia terhadap masyarakat di Palestina.

Bacaan Lainnya
Murid Sekolah Dasar Islam Terpadu Andalusia

Direktur Andalusia Institut, HA Rahman Saleh yang ditemui, Kamis, 8 Agustus 2024 usai mendampingi anak didiknya menuturkan, bahwa apa yang ditampilkan barisan gerak jalan dari SDIT dan SMPIT Andalusia dalam dua hari pelaksanaan gerak jalan sebagai bentuk rasa solidaritas ke masyarakat Palestina. “Kami menilai jika Negara Palestina mempunyai jasa besar dalam upayanya mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia,”ujarnya.

Di balik pengakuan kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka di mata internasional, ada tokoh Palestina yang turut terlibat. Diantaranya adalah Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al Husaini dan Mohamed Ali Eltaher yang merupakan raja media dari Palestina. ” Keduanya punya peran yang tidak kecil dan ngak pernah basa-basi dalam membantu perjuangan serta pengakuan atas kemerdekaan Indonesia,”ungkap HA Rahman Saleh.

Mantan Anggota DPRD Kota Parepare itu menegaskan, bahwa apa yang ditunjukan generasi muda bangsa dari Andalusia sebagai balas jasa atas upaya meraih kemerdekaan Indonesia. “Kita harus terus bersama mendukung upaya kemerdekaan Palestina, apa lagi zionis Israel gencar menyerang yang berakibat banyak anak-anak jadi korban,”imbuhnya.

Aksi siswa andalusia

Makanya kami gencar membangkitkan rasa semangat generasi muda, dimana dengan moment HUT Kemerdekaan RI. Syiar menyampaikan bahwa ada bangsa Palestina yang dulu saat kita dalam penjajahan begitu peduli dengan negara kita. ” Setidaknya saat kita telah merdeka, ada timbal balik bagi bangsa Palestina untuk merasakan pula apa yang kita rasakan. Dan hargailah sejarah,”tutupnya.(*)

NB: Dua Tokoh Palestina

1. Muhammad Amin Al Husaini

September 1944, setahun lebih sebelum Indonesia merdeka. Muhammad Amin Al Husaini tengah bersembunyi di Jerman karena Perang Dunia Kedua. Dia diburu imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai Al-Quds, Palestina. Ketika itu tersiar kabar Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Di tengah kesulitan menyembunyikan diri, Amin Al Husaini mempertaruhkan keselamatannya demi menyiarkan berita ini di tanah Arab.

Kisah itu tercatat dalam buku Mata Air Keteladanan karya Yudi Latif. Melalui radio Berlin berbahasa Arab, Amin Al Husaini menyatakan Indonesia telah merdeka dan mengucapkan selamat. Itulah mengapa, Palestina secara de facto disebut sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI.

Pengakuan itu diberikan bahkan ketika negara ini masih memperjuangkannya. Amin Al Husaini ketika itu aktif melobi banyak pemimpin negara Arab untuk mengakui dan membela kemerdekaan Indonesia. Berkat jasanya, Indonesia diakui pertama kali secara de jure oleh Mesir dan diikuti oleh Suriah, Lebanon, serta beberapa negara Timur Tengah lainnya. Karena itu, sosok Amin Al-Husaini tak bisa dilepaskan dari sejarah Indonesia.

Pengaruhnya sebagai Mufti yang diperhitungkan di dunia Arab, membuat sejumlah negara Timur Tengah turut memberikan dukungan kepada Indonesia. Hingga akhirnya, pengakuan negara-negara tersebut melengkapi syarat kemerdekaan RI.

2. Muhammad Ali Taher

Salah satu tokoh Palestina yang berperan bagi Indonesia adalah Muhammad Ali Taher, seorang raja media dan saudagar kaya yang tidak ragu-ragu membantu perjuangan Indonesia. Muhammad Ali Taher lahir pada tahun 1896 di Nablus, kota di Tepi Barat (West Bank) bagian utara, sekitar 49 kilometer utara Yerusalem, Palestina.

Ayah Muhammad Ali Taher bernama Aref Eltaher dan ibunya Badieh Kurdieh. Muhammad Ali Taher merupakan salah satu dari tujuh bersaudara -tiga perempuan dan empat laki-laki. Keluarganya berasal dari marga Jaradat, yang tersebar di seluruh Palestina bagian utara.

Termasuk keturunan Juhayna, salah satu marga terkenal di Arab Saudi.
Muhammad Ali Taher pindah ke Mesir pada Maret 1912, pertama kali tiba di Port Said sebelum menetap di Kairo. Memulai karier sebagai jurnalis di surat kabar Fata Al Arab yang berbasis di Beirut.

Dia pernah menulis artikel yang memperingatkan niat gerakan Zionis untuk membangun negara Yahudi di Palestina. Muhammad Ali Taher kemudian menerbitkan surat kabar miliknya sendiri dan semasa hidupnya punya tiga surat kabar, yaitu Ashoura, Al-Shabab, dan Al-Alam Al-Masri.

Muhammad Ali Taher adalah salah satu tokoh Palestina yang sangat mencintai Indonesia dan dekat dengan para pemuda pejuang Indonesia di Timur Tengah. Dia juga merupakan sahabat dari Presiden Soekarno dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Muhammad Ali Taher sangat aktif melobi negara-negara di Timur Tengah yang sudah merdeka dan berdaulat di Liga Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.

Salah satu bukti kesetiaan Muhammad Ali Taher kepada Indonesia adalah ketika ia merelakan semua kekayaannya untuk mendukung Indonesia saat menghadapi Agresi Militer II Belanda pada tahun 1948. Dia memberikan semua uangnya yang tersimpan di Bank Arabia kepada Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, Mohamed Zein Hassan, tanpa meminta tanda bukti penerimaan.

“Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia,” kata Muhammad Ali Taher kepada Mohamed Zein Hassan. Atas jasanya yang besar bagi Indonesia, Muhammad Ali Taher mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Soeharto pada tahun 1973.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan atas jasa-jasa luar biasa dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Muhammad Ali Taher meninggal dunia pada tahun 1974 di Kairo, Mesir, dalam usia 78 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Eltaher di Nablus, Palestina.

Muhammad Ali Taher adalah sosok yang patut dicontoh dan dihormati oleh bangsa Indonesia. Dia telah menunjukkan solidaritas dan kepedulian yang tinggi terhadap nasib bangsa lain yang sedang berjuang untuk merdeka.(*)

 

 

Pos terkait