PANGKEP- Direktur PT Semen Tonasa, Asruddin, terus mendapat apresiasi atas pendekatannya yang terbuka dalam membangun hubungan dengan stakeholder dan masyarakat di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Kepemimpinannya yang mengedepankan nilai-nilai budaya Bugis Makassar, yakni Sipakatau (menghormati sesama) dan Sipakalebbi (saling menghormati), memperkuat sinergi antara perusahaan dan komunitas lokal, menciptakan ekosistem industri yang lebih inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Muh Arsyad Yunus, salah satu tokoh pemuda Pangkep, menilai keterbukaan dan kedekatan yang ditunjukkan Asruddin selama memimpin PT Semen Tonasa telah membangun kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan. “Beliau selalu mendengar aspirasi masyarakat dan berkomunikasi dengan berbagai elemen, dari pemerintah hingga komunitas lokal. Ini menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan masyarakat Pangkep,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Asruddin juga menegaskan bahwa PT Semen Tonasa tetap berkomitmen pada program sosial yang telah menjadi bagian dari sejarah perusahaan. Ia mengenang program “kado server” yang telah berjalan di era kepemimpinan sebelumnya dan memastikan inisiatif serupa akan terus berlanjut dengan penyesuaian berdasarkan kebutuhan yang berkembang.
Sebagai figur yang pernah bertugas di PT Semen Tonasa sejak tahun 1998 dan baru kembali setelah tujuh tahun penugasan di Vietnam, Asruddin memahami dinamika sosial dan ekonomi di sekitar perusahaan. Pengalaman panjangnya dalam industri ini menjadi modal besar untuk memastikan keberlanjutan hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan dan masyarakat sekitar.
Namun, di tengah apresiasi terhadap kepemimpinannya, Asruddin juga mengungkap tantangan besar yang dihadapi PT Semen Tonasa akibat persaingan ketat dalam industri semen Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pasar yang sebelumnya didominasi oleh Tonasa kini turut diwarnai oleh lima pemain utama, termasuk PT Conch dari Tiongkok dengan kapasitas 8 juta ton dan Singa Merah yang memiliki kapasitas 9 juta ton, yang baru memasuki pasar Tonasa pada 2023.
Persaingan ini memaksa PT Semen Tonasa melakukan penyesuaian operasional. Saat ini, hanya pabrik Tonasa 4 dan 5 yang aktif berproduksi, sementara Tonasa 2 dan 3 dalam status siaga akibat tekanan pasar. Hal ini terkait dengan perbedaan teknologi produksi, di mana pabrik lama berbasis teknologi Eropa menghadapi tantangan biaya investasi lebih tinggi dibandingkan teknologi produksi dari Cina yang lebih efisien dan terjangkau.
Meskipun permintaan semen di wilayah pasar Tonasa, yang mencakup Kalimantan hingga Papua, berkisar antara 13-15 juta ton per tahun, kapasitas produksi dari seluruh perusahaan telah melonjak hingga 30 juta ton, menciptakan surplus yang berdampak pada berbagai aspek bisnis, termasuk pengelolaan tenaga kerja.
Di tengah dinamika industri yang semakin kompetitif, PT Semen Tonasa di bawah kepemimpinan Asruddin terus berupaya menjaga keseimbangan antara tantangan bisnis dan komitmen sosial. Dengan mengedepankan nilai-nilai budaya serta keterbukaan dalam menjalin komunikasi, perusahaan optimis dapat terus menjadi mitra strategis bagi masyarakat Pangkep serta menjaga keberlanjutan industri semen di Sulawesi Selatan.(*)






