Selasa pagi, 22 Juli 2025, langit di atas Fuel Terminal Palopo sempat diselimuti kekhawatiran. Sebuah insiden flash fire terjadi sekitar pukul 09.55 WITA saat tim teknis menjalankan proses maintenance rutin.
Laporan: Ade Cahyadi
Namun, berkat sistem keselamatan yang sudah teruji dan kesigapan tim lapangan, kobaran cepat itu mampu ditaklukkan dalam waktu singkat menandai bukan hanya keberhasilan prosedural, tapi juga ketangguhan manajemen risiko sektor energi.
Dalam insiden tersebut, dua orang mengalami luka, dan langsung mendapatkan penanganan medis cepat dari tim Paramedis K3. Mereka segera dirujuk ke Puskesmas Bua, lalu menjalani pemeriksaan lanjutan di RS St. Madyang Palopo. Keduanya dilaporkan dalam keadaan sadar, dalam perawatan intensif dan dipantau ketat oleh tim medis.
“Keselamatan dan pemulihan korban adalah prioritas mutlak,” tegas perwakilan Pertamina Patra Niaga, seraya menegaskan bahwa seluruh biaya perawatan ditanggung perusahaan dan koordinasi terus dijalankan dengan rumah sakit, keluarga, dan otoritas terkait.
Meski sempat terguncang oleh insiden, distribusi BBM dan LPG tetap berjalan normal. Aktivitas pengisian mobil tangki dan pengiriman ke SPBU bahkan telah kembali aktif pukul 13.30 WITA di hari yang sama menegaskan betapa ketahanan operasional bukan hanya soal stok dan pipa, tapi juga soal manusia di garis terdepan.
“Kami bersyukur berkat dukungan Damkar Luwu dan sinergi lapangan, tidak ada kerusakan pada infrastruktur utama,” tambah pihak Pertamina.
Di balik barisan tangki dan sistem distribusi energi, insiden ini menghadirkan refleksi, bahwa dalam sistem yang melayani jutaan masyarakat, tanggung jawab korporasi bukan hanya menjaga aliran energi, tapi juga memelihara martabat manusia di tengah risiko pekerjaan yang nyata.
Sebagai entitas strategis dalam pemenuhan energi nasional, Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan standar K3, memperkuat respons darurat, dan menjaga kepercayaan publik melalui transparansi dan keberpihakan terhadap keselamatan.(*)






