PAREPARE— Lapangan Andi Makkasau, yang selama ini menjadi simbol kebanggaan warga Parepare, kini menjadi sorotan publik. Proyek rehabilitasi yang digagas Pemerintah Kota Parepare pada tahun 2021, dengan anggaran mencapai Rp 1,9 miliar dari APBD, dinilai belum memberikan hasil yang sepadan dengan harapan masyarakat.
Rehabilitasi tersebut mencakup sejumlah aspek teknis yang cukup signifikan:
– Perbaikan saluran air untuk mengurangi genangan saat hujan
– Peninggian elevasi lapangan sekitar 20–30 cm
– Penggunaan rumput Zoysia Matrella (rumput manila) yang dikenal elastis dan bertekstur halus
Namun, kondisi terkini lapangan justru memunculkan tanda tanya besar. Rumput yang seharusnya menjadi elemen utama keindahan dan kenyamanan lapangan, kini tampak rusak dan tidak tumbuh optimal. Penggunaan terpal pada malam hari disebut-sebut sebagai salah satu penyebabnya, mengingat rumput membutuhkan sirkulasi udara dan cahaya malam untuk tumbuh sehat.
“Penggunaan lapangan itu bukan uang sedikit. Pelaksanaan kegiatan harus menerapkan prinsip menjaga aset daerah yang ada,” tegas Kasi Intel Kejaksaan Negeri Parepare, Sugiarto, Selasa, 26 Agustus 2025.
Ia menyayangkan kerusakan rumput yang diduga akibat aktivitas ekonomi yang tidak memperhatikan keberlanjutan fasilitas. Sugiarto juga menyoroti pentingnya tanggung jawab pihak ketiga atau pengguna lapangan dan pengawasan pemerintah kota.
“Jangan karena mengejar ekonomi, sehingga rumput yang ada itu rusak. Kita juga akan memantau soal pendapatan yang diperolehnya ke depan,” ujarnya.
Di tengah sorotan ini, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas proyek rehabilitasi tersebut. Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari aspek pengelolaan dan pemanfaatan aset publik.
Terpisah, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, Iskandar Nusu, turut menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi terhadap pola penggunaan lapangan. Menurutnya, saat ini sudah ada kesepakatan agar lapangan tidak digunakan secara terus-menerus.
“Interval waktu penggunaan maksimal 10 hari, dan kegiatan bisa berlangsung satu hingga dua kali per bulan. Ini bagian dari evaluasi agar lapangan tetap terjaga,” jelas Iskandar.
Ia menambahkan bahwa setiap pemberian izin penggunaan lapangan sebagai aset daerah selalu disertai dengan tanggung jawab kepada pemohon event.
“Kami sampaikan agar penyelenggara memperhatikan kondisi lapangan dan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan. Termasuk kegiatan Paskibra, kami akan cek kondisi lapangan pasca kegiatan,” ujarnya.
Mantan Kabag Humas Pemkot Parepare itu menegaskan bahwa lapangan Andi Makkasau bukan hanya ruang olahraga, tetapi juga bagian dari infrastruktur pariwisata kota. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan monitoring dan berkoordinasi dalam setiap pelaksanaan kegiatan.
Transparansi Tarif untuk Beragam Kegiatan
Pemerintah Kota Parepare menetapkan skema tarif pemakaian Lapangan Andi Makkasau sebagai bagian dari upaya transparansi dan optimalisasi ruang publik. Lapangan yang menjadi ikon aktivitas masyarakat ini kini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kegiatan komunitas hingga konser berskala besar, dengan tarif yang telah disesuaikan berdasarkan jenis penggunaan.
Untuk kegiatan umum seperti olahraga, edukasi, atau aktivitas komunitas lainnya, tarif ditetapkan sebesar Rp3.000,00 per meter persegi per hari. Sementara itu, bagi penyelenggara yang membutuhkan seluruh area lapangan, biaya pemakaian dikenakan sebesar Rp15.000.000,00 per hari.
Kegiatan berskala besar seperti konser dikenakan tarif Rp25.000.000,00 per hari, mencerminkan kebutuhan akan fasilitas, keamanan, dan pengaturan teknis yang lebih kompleks. Adapun panggung utama yang sering digunakan untuk pertunjukan atau seremoni dikenakan biaya Rp750.000,00 per hari, sedangkan panggung kecil yang terletak di atas area toilet dikenakan tarif Rp250.000,00 per hari.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan ramah anak, lahan yang digunakan untuk area permainan anak dikenakan tarif ringan sebesar Rp1.000,00 per meter persegi per hari.
Seperti diketahui Lapangan Andi Makkasau bukan sekadar ruang terbuka, tetapi juga ruang sosial, ruang olahraga, dan ruang kebanggaan. Ketika ikon kota mulai kehilangan pesonanya, maka yang terluka bukan hanya rumputnya tetapi juga harapan kolektif warga Parepare.(*)






