JAKARTA– Di tengah gejolak sosial yang melanda dalam 24 jam terakhir, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), menyampaikan dua pesan penting bagi bangsa menjaga kondusivitas dan memakmurkan masjid sebagai pusat kehidupan sosial masyarakat.
Dalam pernyataan yang disampaikan dari kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Jumat, 29 Agustus 2025, JK mengungkapkan duka mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam insiden unjuk rasa. “Dalam keadaan hari ini, tentu kita menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan,” ujar JK.
Ia meminta aparat kepolisian untuk bertindak tegas dan adil terhadap siapa pun yang terlibat dalam insiden tersebut. Menurut JK, penegakan hukum yang keras namun adil adalah kunci untuk menjaga kepercayaan publik. “Semua yang bersalah harus diberi tindakan yang sepadan, yang keras,” tegasnya.
JK juga mengajak masyarakat untuk menahan diri dan tidak memperluas gejolak. Ia mengingatkan bahwa ketidakstabilan sosial dapat berdampak langsung pada kehidupan ekonomi rakyat, terutama bagi komunitas pengemudi ojek online yang tengah berduka. “Jika kota bergejolak seperti ini, maka kehidupan ekonomi akan berhenti. Ini bisa berakibat panjang,” ujarnya.
Tak hanya bicara soal kondisi bangsa, JK juga menyampaikan pesan spiritual dan sosial saat menghadiri peresmian Masjid Baitul Mukhtar BSD, Tangerang, Banten, di hari yang sama.
Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), JK menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah. “Dewasa ini, masjid juga harus menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat. Tidak hanya menjadi tempat ibadah yang memang menjadi kewajiban dan fungsi utamanya,” katanya.
JK menekankan pentingnya fungsi masjid dalam memajukan masyarakat melalui pendidikan, kajian keagamaan, dan pemberdayaan ekonomi. Ia menyebut bahwa masjid yang tidak mendorong kemajuan bersama belum menjalankan fungsinya secara optimal. “Kita harus memajukan masyarakatnya, dari sisi pendidikan, spirit masyarakat serta ekonomi masyarakatnya,” imbuhnya.
Dengan jumlah masjid terbanyak di dunia, JK bangga melihat perkembangan spiritual masyarakat Indonesia. Ia menyebut bahwa tingginya animo terhadap kajian keagamaan dan panjangnya antrean haji menjadi indikator meningkatnya keimanan umat. “Antrian haji yang tumbuh hingga 40 tahun di banyak daerah juga salah satu ukurannya,” ujarnya.
Sebagai penutup, JK mengingatkan pentingnya tiga komponen utama dalam memakmurkan masjid: pendiri, pengurus, dan jamaah. Tanpa sinergi ketiganya, masjid tidak akan menjadi pusat kemajuan umat. “Tanpa tiga unsur itu maka tidak akan terwujud upaya memakmurkan masjid,” pungkasnya.(*)






