Dugaan ASN Hendak Bunuh Diri di Cafe Alya Terbantahkan, Dokter Tegaskan Kondisi Psikologis Bukan Mistis

Keterangan pers terkait kejadian di Cafe Alya

PAREPARE — Isu dugaan aksi bunuh diri seorang oknum ASN berinisial R di Balkon Cafe Alya, Jalan Mattirotasi, Kelurahan Kampung Baru, akhirnya terbantahkan. Peristiwa yang sempat ramai di media sosial pada akhir April 2026 itu diklarifikasi langsung oleh pihak medis dan kepolisian.

Dokter psikiater RSUD Andi Makkasau, dr. Arman, menegaskan bahwa kejadian tersebut bukanlah tindakan bunuh diri yang direncanakan, melainkan manifestasi dari gangguan psikologis.

Bacaan Lainnya

“Setelah kami melakukan asesmen, ditemukan gejala depresi fungsional. Secara luar terlihat normal, bisa bekerja, tapi di dalamnya sangat tersiksa. Kondisi ini memicu halusinasi auditori yang menyuruh melakukan tindakan tertentu. Jadi bukan hal mistis, ini murni medis,” jelasnya, Sabtu, 2 Mei 2026.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan bullying atau komentar yang memperburuk keadaan, melainkan merangkul dan mengarahkan penderita ke tenaga profesional.

Kapolsek Bacukiki, AKP Bustan Tarika, menambahkan bahwa pihak kepolisian tidak menemukan indikasi percobaan bunuh diri.

“Kejadian Minggu malam, 28 April 2026, tidak menunjukkan adanya tanda fisik maupun alat yang mengarah ke percobaan bunuh diri. Saudara R langsung dibawa ke RS Andi Makkasau untuk perawatan medis,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, R sendiri menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. “Saya tegaskan tidak ada rencana bunuh diri. Saya sakit, dan hal ini di luar kemampuan saya. Mohon maaf kepada semua pihak atas kebingungan yang timbul,” ungkapnya.

R juga mengungkapkan bahwa kejadian serupa bukan pertama kali dialaminya. “Ini sudah ketiga kalinya terjadi pada diri saya,” ucapnya sebelum pertemuan. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut murni akibat sakit yang dialami, bukan karena adanya niat bunuh diri. R berharap masyarakat dapat memahami situasi yang dialaminya dan tidak lagi terjebak pada stigma atau gosip yang menyesatkan.

Kasus ini sekaligus membuka mata bahwa stigma terhadap penderita gangguan psikologis masih kuat di masyarakat. Ketika isu bunuh diri cepat dipelintir jadi gosip mistis, korban justru semakin terpojok.

Padahal, sebagaimana ditegaskan dokter dan aparat, yang dibutuhkan adalah ruang empati, pendampingan, dan akses layanan kesehatan jiwa. Publik diingatkan agar tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan sensasi, melainkan sebagai alarm untuk memperbaiki sistem dukungan sosial dan pelayanan medis di daerah.

Dari pantauan lapangan, aktivitas di Cafe Alya tetap berjalan normal pasca kejadian tersebut. Pengunjung masih datang seperti biasa, dan suasana kafe tidak menunjukkan adanya gangguan operasional. Hal ini menegaskan bahwa insiden yang sempat viral di media sosial tidak berdampak pada keberlangsungan usaha maupun kenyamanan pengunjung.(*)

Pos terkait