Ia sudah meninggal. Tetapi, namanya akan selalu dikenang. Ia adalah H Zainal Basri Palaguna. Mantan gubernur Sulsel periode 1993-2003. Mayjen TNI (Purn) H Zainal Basri Palaguna telah pergi selamanya. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga Lamenne atau Alinrungenna Appanna Ladince Puang Mancaji. Bukan di Taman Makam Pahlawan. Lokasinya di Dusun Larumange, Desa Liliriattang, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone.
Oleh: Agung Pramono
(Kabupaten Bone)
HZB Palaguna lahir di Enrekang. Masa kecilnya ia dan keluarganya kerap berpindah-pindah domisili. Semasa kecil, ia sekolah di kampung halaman ayahnya di Watampone. Setelah lulus, ia kemudian mengenyam pendidikan SMP di kampung halaman sang ibu di Watan Soppeng. Setelah lulus, ia masuk di SMA Negeri 1 Makassar. Jenjang pendidikannya kemudian berlanjut di Akademi Militer pada 1962.
Hazibe demikian ia akrab disapa teman-teman dekatnya, memang dikenal sangat hormat kepada kedua orang tuanya. Makanya, sebelum tutup usia, ia berpesan agar jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan orang tuanya. “Di pekuburan di sini sudah ada lima generasi, mulai dari neneknya. Ladince merupakan nama kakeknya, alinrungeng tempat peristirahatan terakhir, appanna keluarga. Itulah arti pekuburan keluarganya,” kata Keponakan Almarhum HZB Palaguna, Syamsuddin Maddu.
Masih kata dia, ada banyak peninggalan almarhum di kampungnya ini. Saat menjabat Gubernur Sulsel, ia membangun kampungnya. “Dahulunya di sini sawah semua. Almarhum membangun jalan untuk warga, termasuk membuat jalan ke kuburan dan sungai. Nama jalannya pun Palaguna,” bebernya. Selain jalan, almarhum juga menyimpan banyak ikan di sungai. Tujuannya agar usai panen padi para petani bisa mengadakan pesta kecil-kecilan. “Tradisi panen itu yang terus berjalan yang dirangkaikan dengan doa syukuran,” sebutnya.
Mantan Kepala Dusun Larumange itu menceritakan, ia terakhir kali berbincang dengan almarhum saat santap siang di rumahnya. Tiga tahun lalu. Beliau menginginkan Dusun Larumange menjadi percontohan untuk Kabupaten Bone. Saat itu juga dibuatkan koperasi Cakkuridie untuk warga di desa. “Insyaallah saya lanjutkan cita-cita beliau untuk membangun desa ini,” cetusnya. Lelaki berkaca mata itu pun menjelaskan, rumahnya memang dibongkar empat tahun lalu. Rumah itu dipindahkan ke Tanralili, Maros. “Agrowisata yang di Maros kan beliau yang punya, dan diteruskan sama Mawan anaknya,” bebernya.
Rasa cinta warga terhadap sosok Palaguna terlihat dalam prosesi pemakaman. Di mana, ada banyak masyarakat yang hadir. Wilayah pemakaman penuh. Tenda ada empat dipasang, tetapi tak mampu juga menampung warga yang datang. Mereka datang ingin melepas sosok yang dikenalnya sangat dermawan. Di lokasi pemakaman ada satu regu Korsik Ajendam XIV/Hasanuddin, satu Satuan Setingkat Peleton (SST) Pok Pama dan Pamen Kodam XIV Hasanuddin, satu SST Yon Arhanud 4/AAY, satu SST Yon Zipur 8/SMG, dan satu regu Yonif Raider 700/WYC.
Upacara pemakaman baru dilakukan pukul 13.24 Wita.
Saat jenazah tiba, upacara pemakaman langsung digelar. Bertindak sebagai pemimpin upacara yakni Komandan Kodim 1407/Bone Letkol Inf Mustamin sedangkan inspektur upacara (Irup) Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Surawahadi. Upacara berlangsung hingga pukul 14.15 Wita. Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Surawahadi mengatakan, segenap masyarakat Sulsel, khususnya Kabupaten Bone berkabung atas wafatnya Mayjen TNI (Purn) HZB Palaguna. Beliau dipanggil sang khalik pada hari Rabu karena sakit di kediamannya. “Kami telah kehilangan seorang tokoh terbaik Sulsel yang banyak mengabdi bagi bangsa dan negara,” tuturnya.
Jenderal berpangkat bintang dua itu menuturkan, almarhum merupakan sosok yang teliti dan disiplin, serta perhatian kepada negaranya. Baik saat mengabdi di militer maupun saat menjadi gubernur. “Karena itu kami hadir memberikan penghormatan terakhir atas jasa dan darmabakti beliau selama ini,” sebutnya. Lebih jauh ia menjelaskan, almarhum sosok yang sangat dermawan. Hal ini yang harus semua orang pelajari. Selain tentara, ia juga paham tentang pemerintahan. Orang yang hebat. “Apalagi beliau pernah sebagai Danpusterad, banyak kajian yang dibuat untuk pengembangan dan penguatan angkatan darat di teritorial. Banyak pemikiran yang dihasilkan khusus masalah keteritorialan,” jelasnya.
Putra almarhum, Andi Mawang Batara Soli mengaku sangat bangga dengan orang tuanya. Ia juga sangat bangga menjadi anak militer. “Terima kasih kepada Bapak Pangdam. Membuat saya bangga jadi anak tentara karena hadir di pekuburan keluarga, bukan di taman makam pahlawan,” singkatnya. Pada upacara pemakaman itu hadir Bupati Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, Kapolres Bone AKBP Muh Kadarislam Kasim, Sekda Andi Surya Darma, serta seluruh camat, dan Kapolsek Lapri, serta Kapolsek Libureng. (FIN)






