JAKARTA, KILASSULAWESI– Tiga calon presiden (Capres) kembali mengikuti debat untuk ketiga kalinya, Ahad, 7 Desember 2024. Ketiga capres yang mengadu program yakni, Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo. Tema debat capres membahas isu pertahanan, keamanan, hubungan internasional, globalisasi, geopolitik, dan politik luar negeri.
Capres urut 1 Anies Baswedan menjelaskan secara rinci program-programnya di bidang pembangunan siber dan pemanfaatan teknologi. Ia pun memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang akan diambilnya jika nantinya terpilih menjadi pemimpin negara.
Dalam sesi tanya jawab dengan panelis, Anies mendapat pertanyaan seputar upaya yang akan dilakukannya untuk memperluas akses teknologi dan memanfaatkannya dalam konteks pertahanan negara.
Anies menggarisbawahi bahwa persoalan siber merupakan ancaman non tradisional yang harus diatasi dengan serius. Menurutnya, pertahanan negara yang tangguh tidak hanya dapat dicapai melalui kekuatan militer konvensional, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi siber dan kecerdasan buatan.”Pertahanan negara yang tangguh dapat dicapai dengan teknologi siber, dan kecerdasan buatan,” tegas Anies.
Ia menjelaskan bahwa salah satu fokus utamanya adalah pada pembangunan infrastruktur pertahanan siber yang mampu mengatasi tantangan modern. Anies percaya bahwa pengembangan teknologi informasi harus melibatkan seluruh komponen masyarakat, sehingga pertahanan negara dapat bersifat holistik dan melibatkan partisipasi aktif dari semua lapisan masyarakat. “Kita harus punya mekanisme merespon balik apabila kondisi serangan sehingga memiliki kecepatan untuk kembali,” ungkap Anies.
Ia juga menegaskan pentingnya respons cepat terhadap ancaman siber. Ia juga menyoroti perlunya pemerintah menyediakan teknologi terbaru sebagai strategi penangkalan. Namun, dalam suasana debat yang penuh dinamika, Prabowo Subianto, calon presiden lainnya, memberikan pandangan yang seimbang terkait dengan pembangunan siber.
Prabowo menyatakan bahwa penguatan pertahanan di bidang siber tidak hanya bergantung pada teknologi semata, melainkan juga memerlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Semua bagus dan indah, tapi yang nyata soal AI siber dan teknologi tinggi adalah sumber daya manusianya. Awaknya,” ujar Prabowo dengan lugas.
Ia menekankan bahwa pengembangan sumber daya manusia dalam bidang siber sangatlah krusial, dan untuk itu, Prabowo mengumumkan telah membentuk empat fakultas di Universitas Pertahanan sebagai langkah nyata untuk mendukung keamanan siber.
Dalam konteks peningkatan sumber daya manusia, Prabowo menilai bahwa peningkatan kualitas SDM merupakan fondasi utama dalam menghadapi ancaman siber. Ia menyakini bahwa hanya dengan memiliki tenaga ahli yang berkualitas, Indonesia dapat bersaing di tingkat global dalam menghadapi tantangan teknologi tinggi dan perang siber.
Namun, Anies dan Prabowo tidaklah sepenuhnya berselisih pendapat. Ganjar Pranowo, calon presiden lainnya, turut memberikan pandangan yang sejalan dengan beberapa aspek yang diungkapkan Anies dan Prabowo.
Ganjar menekankan pentingnya peran Badan Sandi Siber Nasional dan perlunya pengembangan sekuriti sistem. “Siber bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal keamanan dan keselamatan negara. Badan Sandi Siber Nasional harus diperkuat dan menjadi garda terdepan dalam melawan ancaman siber,” tegas Ganjar.
Ia juga menyoroti kebutuhan pembangunan infrastruktur siber yang tangguh dan handal sebagai langkah strategis untuk melindungi kepentingan negara. Dengan penuh semangat, Ganjar Pranowo meminta para capres untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan umum pertahanan.
Ia menekankan bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan visi jelas mengenai pertahanan negara dan strategi menghadapi ancaman yang semakin kompleks. Debat capres ketiga ini menggambarkan betapa pentingnya isu pertahanan siber dalam dinamika politik Indonesia.
Dalam suasana yang penuh dengan argumen dan klarifikasi, Anies, Prabowo, dan Ganjar memberikan pandangan mereka masing-masing mengenai cara terbaik untuk membangun pertahanan siber yang kuat dan tangguh. Sementara Anies menekankan pentingnya teknologi siber dan kecerdasan buatan, Prabowo menyoroti perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, Ganjar menyoroti peran Badan Sandi Siber Nasional dan infrastruktur siber yang tangguh. Dengan berbagai pandangan ini, masyarakat diharapkan dapat memahami lebih dalam mengenai visi dan komitmen setiap calon presiden dalam membangun pertahanan siber yang sesuai dengan kebutuhan zaman.(*)






