Petahana dan Mantan Kepala Daerah Golkar Tumbang, PKB Kunci Kursi Terakhir Dapil Sulsel 2

Caleg Golkar, Nurdin Halid saat kunjungan sosialisasi di Kota Parepare

PAREPARE, KILASSULAWESI– Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hampir pasti mengunci kursi terakhir di Dapil Sulsel 2 ‘Neraka’ yang terdiri atas Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Wajo, Soppeng, Bulukumba, Bone dan Kota Parepare.

Hal itu pun mulai menjadi perbincangan hangat, karena pada Pemilu 2019 lalu, Sulsel II sejatinya merupakan lumbung suara partai besutan Airlangga Hartarto.
Dimana kala itu, mampu mengumpulkan 415.048 suara partai, hingga dua kadernya lolos ke Senayan, Andi Rio Idris Padjalangi dan Supriansa.

Bacaan Lainnya

Dari hasil rekapitulasi tingkat kabupaten dan kota di wilayah Dapil Sulsel 2. Partai Golkar diprediksi hanya bisa mendapat satu kursi DPR RI yakni caleg nomor urut satu Nurdin Halid (NH).

Sedangkan, dua petahana Andi Rio Idris Padjalangi dan Supriansa bersama tiga mantan kepala daerah dua periode yang menjadi Caleg Golkar, yakni mantan Wali Kota Parepare, HM Taufan Pawe, mantan Bupati Pangkep, H Syamsuddin A Hamid dan mantan Bupati Bone Andi Fasharmardhin Padjalangi kandas.

Dari data yang berhasil dikumpulkan, dari sembilan kursi yang diperebutkan. Dua kursi telah diamanlan partai Gerindra yakni kursi 1 dan 7. Sedangkan kursi 2 dimiliki partai Golkar, kursi 3 milik partai NasDem, kursi 4 dimiliki PPP. Selanjutnya, kursi 5 milik partai Demokrat, kursi 6 milik PAN, kursi 8 dan 9 dimiliki PKS dan PKB.

Terpisah, Sekretaris DPW PKB Sulsel, M Haekal dikutip dari laman fajar.co.id memastikan partainya mendapat kursi di dapil Sulsel 2. Setelah mengumpulkan data, PKB mengungguli Golkar. “Kami (PKB) dapat dan itu sudah kunci data itu karena sudah kami sandingkan dengan data internal dengan data KPU,” katanya.

Haekal mengaku tak hafal jumlah suara yang diperoleh, namun ia memastikan angkanya di atas 100 ribu. Capaian ini kata dia diperoleh karena hampir semua kabupaten, PKB mendapat suara tinggi.” Suara tertinggi itu Bone dan Bulukumba, kalau yang lainnya rata-rata hampir sama,” ungkapnya mengakui bahwa caleg yang lolos masih petahana, A Muawiyah Ramly.

Analis politik Unhas, Andi Ali Armunanto menduga, gagalnya Golkar meraih dua kursi akibat ketatnya persaingan. Khususnya gerakan Gerindra yang sangat eksistensifitas, sehingga mengganggu Golkar. Gerindra dinilai menghancurkan basis-basis suara.

Bone misalnya kata dia, dengan masuknya A Amar Ma’ruf (putra Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman) membuat suara Fashar Padjalangi bersaudara dan ponakannya hancur. “Andi Rio hancur (tumbang,red), Fashar hancur, dan Yaqkin Padjalangi hancur,” katanya.

Gerakan Gerindra dinilai memang tampak berdampak ke Golkar. Sebab PKS, walaupun petahananya juga tumbang, tetapi ada Ismail Bachtiar yang lolos. “Dan kalau diperhatikan suaranya tidak terlalu jauh dengan pencapaian yang kemarin (Pemilu 2019). Malah suara PKS bertambah,” katanya.

Lolosnya Muawiyah Ramly ini kata dia menegaskan bahwa PKB tidak terlalu terganggu di Bone. Tetapi kalau melihat Golkar, itu tumbang di mana-mana. Kemudian jika dilihat perolehan suaranya itu tidak terlalu jauh antara NH, Supriansa, dan Taufan Pawe. Meskipun jika digabung cukup besar.

Sehingga ia melihat bahwa tumbangnya Golkar ini akibat pergerakan Amar Ma’ruf dan Andi Iwan Darmawan Aras yang memiliki suara yang sangat tinggi sehingga mendapat dua kursi untuk Gerindra. Bahkan, kata Ali, itu bisa disebut pecah rekor.

Apalagi kata dia, sumber daya yang selama ini dikelola Golkar itu diambil alih Gerindra. Di Bone misalnya, bupati dan birokrasinya itu di dikte sama Gerindra.
Hal ini membuat Golkar hancur, karena Bone ini dahulunya salah satu gudangnya Golkar. “Begitu juga di tempat lain,” ujar Ali.

Menariknya karena dua petahana Golkar yang tak lolos. Sehingga memang itu sangat dipengaruhi oleh kendali A Amran Sulaiman yang mengendalikan pemerintahan melalui Pj kepala daerah. “Karena kita tahu bahwa ada korelasi antara penunjukan Pj dengan lingkaran istana. Sehingga kita bisa asumsi bahwa orang-orang ini yang dulunya dikendalikan petahana Golkar ternyata berbalik ke Gerindra,” terang Ali.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *