Temukan SK Kepengurusan Masjid Terapung, FMB Parepare: Patut Dipertimbangkan

Masjid Terapung Kota Parepare

PAREPARE, KILASSULAWESI– Masjid Terapung yang menjadi ikon baru Kota Parepare menuai sorotan Forum Masyarakat Bahagia (FMB). Dengan beberapa kejadian sebelumnya, FMB pun turun memantau kondisi yang belakangan menjadi viral di media sosial. Alhasil rupanya, FMB menemukan berbagai permasalahan yang perlu dipertimbangkan dan ditindaklanjuti dengan penuh kehati-hatian.

Ketua FMB Kota Parepare, Zainal Azis Mandeng menuturkan, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian dengan kondisi Masjid Terapung. Beberapa di antaranya melibatkan isu Dana Insentif Daerah (DID) APBD yang nilainya mencapai Rp 42 miliar pada pelaksanaan pembangunan Masjid yang nyatanya tidak memenuhi standar estetika.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, pengembalian dana sebesar Rp 2 miliar atas belum rampungnya pembangunan menara Masjid. Keberadaan pasangan kubah yang tidak senonoh di area masjid, perselisihan antara jamaah masjid dan jamaah umrah asal Sidrap akibat air yang tidak mengalir, serta kerusakan pada pintu WC , dan berbagai masalah lainnya.

Bukan hanya itu, Bang Enal sapaan akrab Zainal Azis Mandeng juga memaparkan berbagai hal yang selama ini dinilai sengaja disembunyikan. Diantaranya, terbitnya Surat Keputusan (SK) pengurus Masjid yang ditandatangani sendiri oleh Taufan Pawe selaku Wali Kota Parepare kala itu, sekaligus sebagai Ketua Umum Pembina Idarah Masjid Terapung.

Walaupun, lanjutnya sebelumnya jamaah masjid tidak mengetahui siapa sebenarnya pengurus Masjid tersebut. Jamaah Masjid menginginkan untuk melaporkan isu-isu penting, namun tidak tahu kepada siapa mereka harus melaporkan, terlebih kepada ketua umum idarahnya.

Dalam SK tersebut, terdapat pejabat-pejabat penting daerah serta orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah dimasukkan ke dalam kepengurusan. Dari temuan itu, FMB Kota Parepare menilai tindakan ini kurang etis karena memberikan SK kepada seseorang tanpa pemberitahuan sebelumnya dan tidak memberdayakan masyarakat sekitarnya.

FMB pun menyoroti bahwa dana yang terkumpul dari celengan Jumat dihitung di luar Masjid (dirumah salah pengurus-red). Belum lagi, adanya dana bantuan CSR dari Bank Sulsel dimana nilainya mencapai Rp 260 juta yang tak jelas peruntukannya.

“Harusnya dana bantuan seperti itu dimanfaatkan, supaya amal para donatur jalan juga. Inilah yang menjadi sumber kekhawatiran dan kegelisahan jamaah Masjid Terapung,”tegas Bang Enal, Senin, 4 Maret 2024, malam tadi.

Dengan berbagai permasalahan yang ada, sejatinya SK tersebut disosialisasikan kepada jamaah sekaligus diketahui masyarakat. Tujuannya agar masyarakat mengetahui siapa sebenarnya pengurus masjid tersebut.

” FMB menyimpulkan bahwa kondisi kritis yang menimpa Masjid Terapung disebabkan oleh kepemimpinan mantan Wali Kota Taufan Pawe yang sekarang telah berakhir. Pihaknya pun mengusulkan agar dilakukan perubahan melalui musyawarah. FMB mengusulkan agar H. Syamsul Latanro menjadi Ketua Umum Idarah Masjid Terapung karena pengalamannya yang luas di bidang ini, dan diharapkan bahwa segala permasalahan Masjid Terapung dapat segera diselesaikan sebagai tokoh masyarakat Kota Parepare,”tutupnya.(*)

Nb: SK

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *