PAREPARE– Dalam atmosfer pemilihan Ketua PWI Kota Parepare, nama Ade Cahyadi kembali menarik perhatian. Sebagai sosok dengan rekam jejak kuat di dunia jurnalistik dan kepemimpinan, ia untuk kedua kalinya memilih mundur dari pencalonan baik pada Konferensi PWI Parepare VIII maupun IX.
Namun, keputusan ini bukan karena ketidaksiapan atau kurangnya kapasitas, melainkan karena komitmen yang lebih besar terhadap masa depan organisasi.
Dalam pernyataannya, Ade menegaskan bahwa langkah ini adalah wujud kepeduliannya terhadap keberlangsungan PWI Parepare. “Saya ingin memastikan bahwa organisasi ini berkembang dengan arah yang lebih profesional dan berdaya guna bagi anggotanya,”tegas Ade.
Langkah Ade yang lebih mengutamakan kepentingan organisasi dibanding ambisi personal menjadi bahan diskusi di kalangan peserta konferensi. Dikenal sebagai figur dengan visi modernisasi dan transparansi, ia telah merancang berbagai program kerja yang berorientasi pada peningkatan profesionalisme wartawan, penguatan solidaritas anggota, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi media.
Meski tidak masuk dalam bursa pencalonan, Ade tetap berperan aktif dalam mendukung jalannya Konferensi PWI Parepare. Ia menekankan bahwa pemimpin terpilih harus mampu membawa perubahan nyata bagi organisasi dan anggotanya. “Yang terpenting bukan siapa yang memimpin, tetapi bagaimana organisasi ini bisa lebih maju dan memberikan manfaat bagi para jurnalis,” tambahnya.
Dengan mundurnya Ade dari persaingan, pemilihan berlanjut dengan dua kandidat yang memperebutkan 27 suara pemilih dari 28 anggota PWI Biasa. Hasil akhir menunjukkan Fatahuddin unggul dengan 18 suara, sementara Abdul Razak Arsyad memperoleh 7 suara, dan dua suara dinyatakan batal.
Dengan kemenangan tersebut, Fatahuddin secara resmi menerima bendera pataka dan palu organisasi, menandai kepemimpinannya sebagai Ketua PWI Kota Parepare periode 2025–2028. Dalam sambutan perdananya, ia menyatakan komitmennya untuk menjadikan PWI sebagai wadah yang solid dan profesional bagi insan pers di Parepare.
Konferensi ini tidak sekadar menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga refleksi atas masa depan organisasi. Tantangan zaman menuntut PWI untuk terus berkembang, beradaptasi, dan meneguhkan profesionalisme serta integritas dalam dunia jurnalistik.(*)






