Kapolres Parepare Tegaskan Penyelidikan, Bulog Ungkap Harga Premium Naik

Kapolres Parepare, AKBP Indra Waspada Yudha

PAREPARE – Kapolres Parepare, AKBP Indra Waspada Yudha, memastikan kasus temuan ratusan karung beras SPHP bertuliskan Bulog yang dibuang di lokasi pembuangan sampah masih dalam tahap penyelidikan.

“Reskrim sudah keliling ke beberapa mitra Bulog untuk antisipasi dugaan pengoplosan beras. Namun, keterangan saksi sejauh ini belum menunjukkan adanya pengoplosan. Pihak Bulog pun belum mengetahui terkait dugaan ini, tapi proses penyelidikan tetap berjalan,” tegasnya.

Bacaan Lainnya

Indra menambahkan, polisi akan terus menelusuri aliran distribusi beras SPHP untuk memastikan apakah temuan karung bekas tersebut berkaitan dengan praktik ilegal atau sekadar pembuangan biasa.

Bulog: Harga Premium Naik karena Stok Menipis

Di tempat terpisah, Perum Bulog mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras premium dipengaruhi berkurangnya stok di sejumlah daerah seiring berakhirnya musim panen dan masuknya musim tanam kedua. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan produksi hasil panen mulai berkurang sehingga cadangan pangan di berbagai wilayah menipis.

“Saat ini sebagian besar wilayah sudah masuk musim tanam kedua. Panen berangsur habis, sehingga pasokan di pasar ikut terpengaruh,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.

Bulog telah melakukan berbagai langkah stabilisasi harga, termasuk operasi pasar bersama TNI dan Polri. Penyaluran beras SPHP bahkan melampaui target dengan capaian rata-rata di atas 130 persen sejak Maret–April. Namun, evaluasi bersama Bapanas dan Kementerian Pertanian menunjukkan intervensi tersebut belum mampu menekan harga beras premium.

Rizal menilai strategi menggunakan beras medium untuk menekan harga premium tidak efektif karena segmen pasarnya berbeda. Sebagai solusi, Bulog mengusulkan pengalihan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi beras premium SPHP sebanyak 2 juta ton. Produk baru ini akan dipasarkan dengan nama “Beras Kita”, singkatan dari Beras Keluarga Indonesia Sejahtera, dengan kemasan baru agar lebih mudah dikenali masyarakat.

Langkah ini diharapkan lebih tepat sasaran karena intervensi dilakukan langsung pada segmen premium yang mengalami lonjakan harga, bukan sekadar membanjiri pasar dengan beras medium.

 

Pos terkait