POLMAN,– Seorang pasien atas Nama Abdul Rahman mengaku tidak mendapatkan pelayanan saat berobat ke Puskesmas (PKM) Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kejadian ini sempat viral di media sosial dan menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat. Namun pihak Puskesmas Polewali telah memberikan klarifikasi atas kejadian tersebut.
Menurut keterangan yang beredar, pasien tersebut datang pada siang hari Jumat 25 juli 2025 untuk mendapatkan pertolongan medis, namun tidak langsung dilayani. Keluarga pasien menyebut bahwa tidak ada petugas medis yang merespons dengan cepat, sehingga mereka merasa diabaikan.
Menanggapi hal itu, Kepala Puskesmas (Kapus) Polewali, Hj Relawati, SKM,, memberikan penjelasan. Ia mengatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat, dan kejadian ini terjadi karena adanya kesalahpahaman serta prosedur yang harus dilalui.

Menurut Kepala Puskesmas Polewali, Hj, Relawati,SKM didampingi Tim manajemen ,Pj,rawat inap,Pj UGD dan tim Perawat PKM Polewali bahwa,pasien tersebut sebelumnya sudah pernah dirawat di tempat yang sama pada bulan November 2024 selama tiga hari. Ketika kondisinya kembali menurun pada Juli 2025, pihak keluarga,membawa pasien ke Puskesmas
“Pasien dibawa ke Puskesmas oleh keluarganya karena mengalami serangan penyakit yang sama seperti sebelumnya. Petugas kami menerima dan memeriksa sesuai prosedur. Tanda-tanda vital diperiksa, termasuk pernapasan dan kondisi tubuh. Hasilnya masih dalam batas normal, meskipun kondisi umum pasien tampak lemah,” jelas Kepala Puskesmas Polewali. Sabtu 26 Juli 2025
Kata dia,Pasien tersebut menunjukkan gejala kesadaran menurun, sehingga tim medis menyarankan observasi lebih lanjut. Saat hendak ditindaki keluarga pasien justru tak terima dan langsung mengambil pasien tersebut untuk di bawa kerumah sakit.
“Kami menjelaskan bahwa rujukan harus melalui prosedur. Sesuai SOP, sebelum dirujuk, pasien perlu menjalani observasi awal, dipasangi infus, lalu dokter memberikan penilaian apakah pasien perlu dirujuk atau bisa ditangani di Puskesmas,” tambahnya.
Dalam proses tersebut, Puskesmas menggunakan sistem aplikasi Sisrute (Sistem Informasi Rujukan Terpadu) yang menghubungkan fasilitas layanan kesehatan ke rumah sakit rujukan. Namun, pihak keluarga khususnya ayah pasien tidak memahami dan menolak mengikuti prosedur tersebut.
“Bapaknya sempat bertanya mengapa harus pakai aplikasi. Kami berusaha menjelaskan bahwa ini adalah sistem nasional yang wajib kami ikuti namun tidak diindahkan dan seolah tidak mau mendengar ,” jelasnya.
Selain itu, keluarga pasien juga meminta agar pasien diantar menggunakan ambulans. Namun pada saat kejadian, ambulans Puskesmas tidak bisa digunakan karena sopir sedang melaksanakan ibadah salat Jumat. .
“Kami punya ambulans, tapi saat itu sopir sedang salat Jumat dan belum kembali ke Puskesmas hingga lewat pukul 13.00 WITA. Kondisi ini sudah kami jelaskan ke keluarga,” katanya.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan pasien. Kami tidak menolak atau mengabaikan pasien mana pun, tapi di puskesmas itu punya SOP dan aplikasi untuk rujukan pasien ke rumah sakit.ujar,Hj.Relawatu saat dikonfirmasi Sabtu 26 Juli 2025.
Ia juga menegaskan bahwa pelayanan di Puskesmas Polewali tetap berjalan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
“Petugas medis kami harus memprioritaskan pasien berdasarkan kondisi medis, dan bukan berdasarkan waktu kedatangan. Kami memahami perasaan keluarga pasien, dan saat ini kami sedang melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar disebut telah menerima laporan awal terkait insiden ini dan tengah menelusuri informasi lebih lanjut guna memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal.(*)






