BOGOR— Sekolah Rakyat resmi menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara serentak mulai hari ini, dengan pembukaan dipusatkan di SMP Sekolah Rakyat 10 Kabupaten Bogor yang berlokasi di STIS Cibinong. Program ini menjadi langkah nyata dalam menghadirkan pendidikan inklusif bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu di seluruh Indonesia.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, menyebut bahwa Sekolah Rakyat kini telah beroperasi di 63 titik yang tersebar di berbagai wilayah: 13 lokasi di Sumatera, 34 di Jawa, 3 di Bali dan Nusa Tenggara, 2 di Kalimantan, 8 di Sulawesi, 2 di Maluku, dan 1 di Papua.
Total terdapat 256 rombongan belajar (rombel), terdiri dari 3 rombel tingkat SD, 112 rombel tingkat SMP, dan 141 rombel tingkat SMA. Jumlah siswa yang mengikuti MPLS tahun ini mencapai 6.130 orang, dengan rincian 75 siswa SD, 2.800 siswa SMP, dan 3.225 siswa SMA.
Pendidikan untuk Anak Miskin Ekstrem
Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faisal, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat diperuntukkan khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, terutama yang masuk dalam kategori desil 1 dan desil 2. “Untuk anak kita yang ada dari keluarga tidak mampu, terutamanya dari desil 1 dan desil 2, yang betul-betul sangat miskin atau miskin ekstrem,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh siswa akan tinggal di asrama agar dapat fokus pada pendidikan. “Jam belajar lebih banyak, akan ada banyak aktivitas-aktivitas di dalam,” jelasnya.
Sulawesi Selatan
Di Sulawesi Selatan, Sekolah Rakyat telah hadir di sejumlah titik, termasuk di Wajo, Pangkep, Bone, Takalar, Gowa, dan Makassar. Di Makassar, dua titik lokasi berada di Balai Diklat dan bangunan BPSDM yang disediakan langsung oleh Gubernur Sulsel. Bangunan BPSDM tersebut memiliki kapasitas hingga 200 siswa.
Abdul Malik juga menjelaskan bahwa program ini masih berada dalam tahap pertama. Saat ini, Sekolah Rakyat menggunakan bangunan existing, namun ke depan akan pindah ke bangunan permanen yang rata-rata memiliki luas di atas enam hektar.
Setiap siswa Sekolah Rakyat akan menerima delapan set seragam, mulai dari jas almamater, seragam dinas pesiar dan lapangan, batik nasional dan identitas, baju olahraga, seragam Pramuka, hingga jas laboratorium.
Selain itu, siswa juga mendapatkan berbagai fasilitas penunjang, seperti cek kesehatan gratis, pemetaan bakat, tes kompetensi dasar, pembentukan kebiasaan disiplin dan sehat, tinggal di asrama yang layak, makan tiga kali sehari plus dua kali camilan, perlengkapan sekolah, serta akses ke laptop, smartboard, dan guru yang dibekali metode pembelajaran digital.
Pendidikan inklusif dan Nyata
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan, melainkan gerakan sosial untuk menghapus kesenjangan akses pendidikan. “Pendidikan inklusif harus nyata, bukan hanya jargon. Sekolah Rakyat hadir untuk menjawab kebutuhan anak-anak dari berbagai latar belakang,” tegasnya.
Dengan pendekatan berbasis komunitas dan fasilitas menyeluruh, Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi anak-anak yang sebelumnya putus sekolah atau tidak mampu melanjutkan pendidikan. MPLS tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen terhadap pemerataan pendidikan dan pembangunan karakter generasi muda Indonesia.(*)






