PAREPARE— Di Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, perubahan besar dimulai dari kandang sapi. Sejak tahun 2021, warga tak lagi memandang kotoran ternak sebagai masalah, melainkan sebagai berkah.
Itu adalah berkat program CSR Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare, limbah sapi kini diubah menjadi energi bersih dan pupuk organik yang memperkuat ekonomi dan ekosistem lokal.
Program Kampung Energi Berdikari Bacukiki adalah inisiatif binaan Pertamina yang bekerja sama dengan Kelompok Peternak Tangguh Watang Bacukiki. Mereka membangun instalasi biogas efisien, di mana kandang sapi langsung tersambung ke reaktor anaerobik.
Proses ini memungkinkan kotoran sapi dipecah oleh mikroorganisme menjadi gas metana bahan bakar alternatif yang kini digunakan warga untuk memasak. “Dulu kotoran sapi jadi masalah. Sekarang, cukup disiram ke reaktor, langsung jadi gas setiap hari. Tidak perlu tenaga manusia lagi,” ujar Sudirman yang juga merupakan Sekretaris Kelompok Peternak Tangguh di Kelurahan Watang Bacukiki.
Gas metana yang dihasilkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada LPG, kata Sudirman, akan tetapi juga menghasilkan pupuk cair organik yang kaya nutrisi untuk lahan pertanian. Sudirman dengan logat bahasa bugisnya menjelaskan lebih jauh proses pengolahan biogas dimulai dari pencampuran kotoran sapi dengan air, yang kemudian dimasukkan ke dalam digester anaerobik.
” Di dalam ruang tertutup ini, mikroorganisme bekerja secara alami memfermentasi campuran tersebut hingga menghasilkan gas metana. Gas yang terbentuk dialirkan melalui jaringan pipa menuju rumah, menjadi sumber energi alternatif untuk memasak,”jelasnya. “ Untuk tiga ekor sapi saja, gas yang dihasilkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak 3 hingga 5 rumah tangga setiap hari,”timpalnya.
Ditambahkannya, saat ini konflik antara peternak dan petani yang kerap jadi masalah pun mereda, karena sapi kini dikandangkan dan lahan pertanian terlindungi.
Community Development Officer TBBM Pertamina, Firman menjelaskan bahwa program ini lahir dari kepedulian terhadap lingkungan dan keinginan mencari solusi atas limbah ternak yang selama ini menjadi sumber konflik.
“Kami ingin mengubah limbah jadi berkah. Biogas ini bukan hanya energi bersih, tapi juga solusi sosial dan ekonomi bagi warga Bacukiki,” ungkap Firman, Rabu, 13 Agustus 2025.
Dengan mayoritas warga berprofesi sebagai peternak dan petani, biogas menjadi jawaban atas kebutuhan energi yang murah, bersih, dan berkelanjutan. Kini, warga tak lagi bergantung pada tabung gas 3 kg yang langka dan beresiko bocor.
Kelompok perempuan di Watang Bacukiki turut berperan dalam ekosistem ini. Mereka mengelola kebun cabai, menjual hasil panen, dan menyisihkan 10% keuntungan untuk PMT (Pemberian Makanan Tambahan) balita di Posyandu. Program ini terintegrasi dengan Dapur Sehat Dahsyat, yang juga didukung CSR Pertamina.
“Setiap bulan ada Posyandu, dan kami bantu pemerintah yang tidak punya anggaran PMT. Kami ambil bahan dari UMKM lokal seperti abon bandeng dan bandeng tanpa tulang,” ujar Lurah Watang Bacukiki, Nur Muhlisa.
Saat ini, lanjutnya tercatat ada sekitar 30 penerima manfaat dari 10 titik di wilayah Kelurahan Watang Bacukiki ditingkat Rukun Warga (RW), termasuk RW 1, RW 4, RW 5, dan RW 7.
Pemerintah kelurahan terus berkoordinasi agar program diperluas ke RW lain. Kelurahan Watang Bacukiki kini bersiap meluncurkan program wisata berkelanjutan pada 19 Agustus, menunggu jadwal peresmian dari Wali Kota Parepare.
Nur mengakui, meski bukan desa wisata, kelurahan ini menunjukkan bahwa inovasi bisa tumbuh di wilayah pinggiran. “Kami bersyukur, sejak 2021 Pertamina terus mendampingi. Dari biogas, dapur sehat, hingga wisata berkelanjutan. Ini bukan bantuan sesaat, tapi pendampingan jangka panjang,” tegasnya.
Warga berharap program ini diperluas dan dirawat dengan baik. Tantangan seperti berkurangnya populasi sapi saat Idul Adha menjadi perhatian, karena suplai kotoran memengaruhi produksi gas.
“Kalau bisa, sambungan gas diperluas. Tapi tergantung jumlah sapi. Kalau kotorannya cukup, satu reaktor bisa melayani banyak rumah,”tambah warga penerima manfaat, Amelia.(*)






