JAKARTA— Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menegaskan pentingnya pembentukan nomenklatur Dinas Ekonomi Kreatif di tingkat daerah sebagai langkah strategis memperkuat city branding dan mendorong subsektor unggulan naik kelas. Pernyataan ini disampaikan saat menerima kunjungan Wakil Wali Kota Banjar, Supriana, beserta jajaran di Autograph Tower Thamrin Nine, Jakarta, beberapa waktu lalu.
“Ketika sebuah daerah seperti Banjar memahami dan berniat memajukan ekonomi kreatif, itu sinyal positif. Apalagi Banjar berada di Jawa Barat, salah satu provinsi prioritas pengembangan ekraf versi Bappenas. Prinsipnya, kami siap berkolaborasi untuk menguatkan potensi ekraf secara berkelanjutan,” ujar Menteri Teuku Riefky.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Ekraf menekankan bahwa 80 persen fokus kementeriannya adalah akselerasi potensi ekraf di daerah. Menurutnya, penguatan city branding, promosi produk kreatif, dan pengembangan kapasitas talenta lokal menjadi kunci agar ekonomi kreatif mampu menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, menambahkan bahwa Kementerian Ekraf memiliki Indikator Kinerja Utama (IKU) yang membedakannya dari kementerian lain. “Tugas pokok kami adalah merumuskan dan mengkoordinasikan kebijakan. Ketika ekraf dikembangkan di daerah, dampaknya bisa signifikan: peningkatan penerimaan negara, penciptaan lapangan kerja, dan ekspor produk kreatif,” jelasnya.
Wakil Wali Kota Banjar, Supriana, menyampaikan komitmen daerahnya untuk bertransformasi dari destinasi alam menjadi destinasi pengalaman. Ia menekankan pentingnya pendampingan agar Banjar memiliki daya tarik sebagai kota kreatif yang mampu bersaing secara regional dan nasional.
“Kami ingin para pegiat ekraf di Banjar punya semangat untuk berkembang. Kami butuh kerja bareng dengan insan-insan kreatif agar bisa go regional, go nasional, bahkan go internasional,” ujar Supriana.
Sebagai bentuk keseriusan, Kota Banjar telah membentuk Tim Akselerasi Percepatan Pembangunan Daerah (TAPPD) yang dipimpin oleh Bintang. Tim ini bertugas mendorong langkah-langkah kreatif bernilai tambah, termasuk pengembangan subsektor seperti batik dan kebudayaan lokal.
“Banjar bercita-cita menjadi kota kreatif lewat konsep urban attraction tourism. Meski pariwisatanya belum optimal, kami ingin ekraf hadir sebagai identitas dan penguat ekonomi,” tegas Bintang.
Staf Ahli Menteri Bidang Pemasaran dan Infrastruktur, Septriana Tangkary, menyampaikan bahwa pembentukan Dinas Ekonomi Kreatif di daerah akan membuka peluang pelatihan, upskilling, dan pengembangan ruang kreatif. “Kami ingin membujuk Banjar agar segera membentuk nomenklatur ekraf. Ini bukan sekadar struktur, tapi fondasi untuk penguatan ekosistem kreatif,” ujarnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan Radi Manggala serta jajaran kepala dinas dan tim akselerasi dari Kota Banjar yang bergerak di bidang ekraf, pariwisata, dan teknologi informasi.(*)






