Program Bergizi Jalan, Sekolah Dasar Ring 1 Tonasa Terbengkalai

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya

JAKARTA– Polemik anggaran pendidikan kembali menjadi sorotan setelah publik menyoroti kondisi memprihatinkan SDN Bujung Tangaya, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep. Sekolah yang berada di wilayah ring 1 PT Semen Tonasa itu nyaris roboh, sementara pemerintah pusat menegaskan anggaran pendidikan tetap berjalan tanpa pengurangan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menepis tudingan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggerus anggaran pendidikan.

Bacaan Lainnya

“Saya ingin meluruskan narasi keliru. Program makan bergizi tidak mengurangi anggaran pendidikan. Faktanya, semua program strategis pendidikan dari periode sebelumnya tetap berjalan, bahkan ditambah,” ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, beberapa waktu lalu.

Teddy menegaskan, MBG justru bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak jenjang PAUD hingga SMA. Ia menyebut anggaran pendidikan tahun 2026 mencapai Rp 769,1 triliun, atau 20% dari total APBN, sebagaimana disepakati pemerintah bersama DPR RI.

Dari jumlah itu, Rp 223,55 triliun dialokasikan untuk Badan Gizi Nasional. Namun di lapangan, fakta berbeda mencuat. SDN Bujung Tangaya yang berada di jantung industri semen terbesar di Indonesia Timur justru dibiarkan rusak parah.

Warga menilai sekolah itu tak pernah tersentuh perbaikan. “Saya miris liat bangunan sekolah, padahal aroma debu semen tiap hari terasa. Ini masuk area ring 1 PT Semen Tonasa,” kata Rahayu, warga setempat.

Tokoh pemuda Pangkep, Moh Hasan Hanaping, menambahkan kritik keras. “Pemerintah punya tanggung jawab soal pendidikan, termasuk perusahaan sebesar PT Semen Tonasa. Jangan cuma mau mengeruk hasil buminya. Anak-anak di sini berhak belajar di tempat yang aman dan layak,” ujarnya.

Teddy sendiri menegaskan bahwa kerusakan sekolah merupakan kewenangan pemerintah daerah. “SD dan SMP itu kewenangan bupati dan wali kota. SMA kewenangan gubernur. Pemerintah pusat sudah renovasi 16.000 sekolah di tahun 2025 dengan anggaran Rp 17 triliun,” jelasnya.

Meski demikian, publik tetap mempertanyakan efektivitas alokasi anggaran jumbo. Di satu sisi, pemerintah mengklaim program pendidikan berjalan dan bahkan ditambah. Di sisi lain, sekolah-sekolah di daerah, termasuk yang berada di kawasan industri strategis, masih terbengkalai.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemkab Pangkep maupun PT Semen Tonasa. Sorotan warga dipastikan akan terus bergema di media sosial, menuntut jawaban apakah anggaran ratusan triliun benar-benar menyentuh sekolah-sekolah yang nyaris roboh?.(*)

 

 

Pos terkait