Kapal Hias, Kuliner Mandar, dan Solidaritas Pesisir yang Berkibar

Pesta nelayan di Desa Lero dan Ujung Labuang, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang

PINRANG– Puluhan kapal nelayan berhias pernak-pernik meriah berlayar di perairan Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, dalam pelaksanaan pesta nelayan dua tahunan yang selalu menjadi magnet perhatian masyarakat pesisir.

Keunikan pesta kali ini semakin terasa karena kapal-kapal hias turut mengibarkan bendera negara peserta Piala Dunia 2026, seolah mempertemukan semangat olahraga dunia dengan tradisi lokal.

Bacaan Lainnya

Tokoh masyarakat Desa Lero, H. Aco Parenrengi Depu, menuturkan bahwa pesta rakyat kali ini digelar bersama oleh Desa Lero dan Desa Ujung Labuang. Tradisi membuang sesajen ke laut tetap dijalankan sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dari hasil laut.

Kehadiran pejabat daerah, tokoh masyarakat, hingga tamu dari luar wilayah Pinrang menambah khidmat sekaligus semarak suasana. Sebanyak 90 kapal nelayan ikut serta dalam arak-arakan yang dimulai sejak pukul 08.00 Wita hingga siang hari.

Setiap kapal dihiasi bukan hanya dengan ornamen, tetapi juga dilengkapi dengan makanan khas Mandar yang menjadi identitas budaya pesisir. Rute pelayaran pun mengikuti jalur segitiga tradisional, berangkat dari dermaga Lero menuju pantai Lumpue, lalu ke Soreang, sebelum akhirnya kembali ke Lero. “Itu adalah alur nelayan dari dua desa, Lero dan Ujung Labuang,” jelas H. Aco.

Pesta nelayan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga bentuk kesyukuran kolektif atas berkah laut yang menopang kehidupan masyarakat. Tradisi ini juga memiliki konsekuensi budaya, ketika pesta nelayan digelar, maka acara kuda pattuduq atau kuda menari yang biasanya meramaikan peringatan Maulid Nabi tidak akan dilaksanakan di Desa Lero maupun Ujung Labuang. “Kalau ada pesta nelayan dua tahun sekali, artinya Maulid Nabi tidak akan diwarnai kuda pattuduq,” bebernya.

Yang tak kalah penting, masyarakat Desa Lero dan Ujung Labuang yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan merupakan bagian dari suku Mandar, salah satu etnis besar di Sulawesi yang dikenal dengan tradisi maritimnya. Identitas Mandar ini tercermin dalam setiap detail pesta, mulai dari kuliner khas yang disajikan di atas kapal, hingga nilai kebersamaan dan gotong royong yang mengikat warga pesisir.

Dengan demikian, pesta nelayan bukan hanya perayaan hasil laut, tetapi juga pernyataan budaya bahwa masyarakat Mandar tetap menjaga warisan leluhur mereka di tengah arus modernisasi. Selain itu, pesta nelayan juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga dan sarana memperkuat solidaritas sosial.

Kehadiran ribuan penonton di sepanjang pesisir menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya milik nelayan, tetapi juga milik seluruh masyarakat yang merasa bangga dengan akar budaya mereka. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam suasana gembira, menjadikan laut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan juga panggung kebersamaan.

Acara yang berlangsung pada Rabu, 8 Juli 2026 ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Drs. H. Abd Rahman Mahmud, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Pinrang, serta Kajari Parepare yang juga dikenal sebagai tokoh asal Mandar.

Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan bahwa tradisi pesisir adalah modal sosial-politik yang tak bisa diabaikan. Dengan demikian, pesta nelayan Lero bukan hanya perayaan hasil laut, tetapi juga pernyataan keras bahwa Mandar tetap berkibar di tengah bendera dunia. (*)

 

Pos terkait