PINRANG — Atraksi budaya Sayyang Pattudu yang identik dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tak hanya berlangsung di Sulawesi Barat. Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, turut menjadi panggung megah bagi tradisi khas suku Mandar yang digelar dua tahun sekali dan selalu menyedot perhatian ribuan warga.
Sejak dua hari sebelum acara puncak, warga dari berbagai daerah telah berdatangan ke Desa Lero. Jalanan pesisir ramai, rumah-rumah nelayan terbuka lebar menyambut tamu, dan aroma kuliner khas Mandar menyeruak dari dapur-dapur warga.
Ketua Panitia, Mahyuddin, menyebutkan bahwa tahun ini sebanyak 43 ekor kuda ikut meramaikan atraksi Sayyang Pattudu. Anak-anak berpakaian adat menaiki kuda berhias, diiringi irama gendang pa’kalindada yang menggema di sepanjang jalan desa.
“Ini bukan sekadar tontonan, tapi bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad dan warisan budaya yang kami jaga bersama,” ujar Mahyuddin.
Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Pinrang beserta jajaran pemerintah daerah, yang turut menyemarakkan suasana dan memberi dukungan terhadap pelestarian tradisi lokal.
Irama syair pa’kalindada menjadi nyawa acara, mengiringi langkah kuda dan syair shalawat yang dilantunkan dengan penuh khidmat. Di sisi lain, hampir setiap rumah warga menyajikan makanan khas Mandar seperti jepa, kambu, baje, dan ikan bakar segar hasil tangkapan nelayan lokal.
Desa Lero yang mayoritas dihuni oleh komunitas Pa’gae, nelayan dan pelaut Mandar menjadikan momen Maulid sebagai ajang silaturahmi, kebanggaan budaya, dan penguatan identitas pesisir.
“Kami ingin kegiatan ini terus berlanjut, bukan hanya sebagai tradisi, tapi sebagai daya tarik wisata budaya yang bisa mengangkat nama Lero dan Pinrang,” ujar HA Aco Parenrengi Depu sebagai salah satu tokoh masyarakat.(*)






