Menpar Sebut Partisipasi Masyarakat Jadi Kekuatan Utama “Festival Golo Koe 2026”

LABUAN BAJO— Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan partisipasi aktif masyarakat lokal menjadi kekuatan utama yang menjaga keberlanjutan “Festival Golo Koe 2026” sebagai event pariwisata berbasis budaya dan religi.

Menpar Widiyanti saat membuka Festival Golo Koe 2026 di Kawasan Waterfront City, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin, 10 Agustus 2026 menyampaikan bahwa Festival Golo Koe menjadi sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja.

Bacaan Lainnya

“Di sinilah saya melihat kekuatan Festival Golo Koe. Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia,” kata Menpar Widiyanti.

Hal ini juga menunjukkan bahwa pariwisata tidak selalu dibangun melalui kemegahan atraksi, tetapi juga dapat bertumpu pada nilai-nilai spiritual, budaya, dan kemanusiaan yang tumbuh dari masyarakat.

Festival ini kembali masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN), sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda unggulan pariwisata Indonesia.

Mengusung tema “Maria Assumpta Nusantara”, Festival Golo Koe memadukan prosesi religi, atraksi budaya, pameran UMKM, serta beragam pertunjukan seni lokal dalam satu perayaan yang merefleksikan kekayaan tradisi sekaligus semangat kebersamaan masyarakat.

Antusiasme tinggi terlihat sejak hari pertama penyelenggaraan, dengan ratusan masyarakat serta wisatawan nusantara dan mancanegara memadati lokasi acara.

Keberhasilan festival ini juga tercermin dari dampak ekonomi yang dihasilkan. Pada 2025, Festival Golo Koe mencatatkan kunjungan lebih dari 45 ribu wisatawan. Festival tersebut melibatkan 173 pelaku UMKM, 883 pekerja seni, serta menciptakan 1.473 kesempatan kerja dengan perputaran ekonomi mencapai Rp2,82 miliar.

Tahun ini, Festival Golo Koe yang menargetkan 50 ribu pengunjung dengan nilai perputaran ekonomi yang diharapkan melampaui capaian tahun sebelumnya. Selama penyelenggaraan festival, tingkat hunian hotel dan homestay di Labuan Bajo juga diperkirakan meningkat signifikan seiring bertambahnya kunjungan wisatawan.

“Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal,” ujar Menpar,” kata Menpar.

Pada kesempatan yang sama, Menpar Widiyanti mengapresiasi Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, dan seluruh pihak yang secara konsisten bergotong royong membangun Festival Golo Koe sebagai ruang kolaborasi yang berkualitas, hingga menjadi salah satu event unggulan Indonesia.

Pada 2026, Festival Golo Koe kembali terpilih sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak 2024 dan untuk kedua kalinya masuk dalam Top 10 KEN. Capaian ini semakin memperkuat posisi festival sebagai salah satu ikon pariwisata berbasis budaya dan religi di Indonesia.

Menpar berharap penyelenggaraan Festival Golo Koe turut berkontribusi terhadap pencapaian target kunjungan wisata tahun 2026, yakni 16–17,6 juta wisatawan mancanegara dan 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara.

“Kiranya Festival Golo Koe terus mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang maju bersama masyarakat dan tetap teguh pada akar budayanya,” kata Menpar.

Uskup Labuan Bajo, Maksimus Regus, mengatakan kehadiran Festival Golo Koe menjadi bagian dari promosi pariwisata sekaligus itikad bersama untuk menjaga keberlanjutan pariwisata Labuan Bajo. Ia berharap Festival Golo Koe senantiasa menjadi Top Ten KEN di tahun-tahun mendatang.

“Kita ingin agar ruang pariwisata yang bertumbuh dengan cepat, juga memiliki dampak konstruktif bagi kita yang ada di masyarakat lokal,” katanya.

Festival Golo Koe 2026 berlangsung selama enam hari, pada 10–15 Agustus 2026, dengan pusat kegiatan di Waterfront City Marina dan Bukit Golo Koe, serta sejumlah lokasi strategis lainnya di Labuan Bajo.

Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari pentas seni budaya Nusantara, pameran ekonomi kreatif dan kuliner lokal, edukasi ekologis dan aksi penanaman pohon, pertunjukan tari Caci, karnaval budaya, Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara, hingga ekaristi agung.

Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara menjadi agenda utama festival. Dalam prosesi tersebut, patung Bunda Maria diarak menggunakan kapal pinisi melintasi perairan Labuan Bajo sebelum dibawa menuju Gua Maria di Golo Koe dari Pelabuhan Marina Waterfront. Ribuan peserta mengenakan busana adat Manggarai berupa kain songke, baju putih, selendang, serta atribut tradisional lainnya, menciptakan perpaduan yang harmonis antara tradisi budaya, nilai religius, dan identitas lokal.

Hadir mendampingi Menpar, Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Reza Pahlevi; Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra; Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenpar, Vinsensius Jemadu; Asdep Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II, Marhen Dwi Yono; dan Plt. Direktur utama Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores, Andhy Marpaung.

Pos terkait