Kota Parepare menasbihkan diri sebagai kota cinta. Inovasi atau program pembangunan yang dilaksanakan, baik pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan masyarakat diarahkan berdasarkan cinta. Termasuk cinta lingkungan.
PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare yang terletak di Jalan H. A. M Arsyad No 1, Kecamatan Soreang mengambil bagian dari ikonik kota cinta itu. Salah satunya pada Program Kampung Iklim (Proklim), program nasional yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tujuannya, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Laporan: Ade Cahyadi
Pihak PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare melihat potensi itu mesti dikembangkan di Parepare. Sekaligus menjadi jalan menyelesaikan perselisihan petani dan peternak di Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Parepare yang tak berkesudahan. Mesti beberapa kali dialog dilakukan pemerintah kelurahan dan kecamatan.

Konflik ini berakar dari kebiasaan beternak secara liar yang mengganggu lahan pertanian. Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare, Firman mengaku turut prihatin dengan masalah tersebut. Makanya, pihaknya berupaya agar perselisihan yang sudah beberapa tahun itu mesti ada solusi yang membahagiakan kedua belah pihak.
Maka menjadi ‘juru damai’ dilaksanakan pada 2021, di kelurahan seluas 25,52 hektare dengan populasi penduduk 2.289 jiwa. Kami edukasi dan dampingi masyarakat. Bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Watang Bacukiki, mengajak agar tidak ada lagi sapi yang dilepasliarkan,” ungkap Firman berkisah awal mula Proklim dilaksanakan.
Proklim yang dihadirkan diberi nama, Kampung Energi Berdikari Bacukiki. Edukasi dilaksanakan dengan sosialisasi, intinya mengubah limbah peternakan menjadi sumber energi baru yang berharga dan ramah lingkungan. Sementara limbah hasil produksi biogas dimanfaatkan sebagai pupuk oleh petani. Sebaliknya, limbah pertanian dijadikan pakan alternatif bagi ternak.
Program dengan pendekatan cinta itu, tampaknya direspons petani dan peternak. Bagi Firman, awal manis itu akan menjadi solusi perselisihan, sekaligus jalan mewujudkan Kelurahan Watang Bacukiki menjadi pionir dalam pemanfaatan energi terbarukan.
Program itu pun berjalan. ” Kami edukasi dan dampingi masyarakat. Bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Watang Bacukiki, membuat aturan, semua sapi harus dikandangkan,”ungkap Firman.
Namun pengandangan sapi memunculkan masalah baru, yakni penumpukan kotoran ternak. Pihak Pertamina pun tertantang untuk kembali mencari solusi. Sebab program sudah berjalan, tak bisa kandas dengan persoalan itu. Ternyata ada jalan.
” Kami undang komunitas biogas Indonesia untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat tentang tata cara pembuatan reaktor pengolahan kotoran sapi menjadi energi terbarukan,” ujar Firman.
Upaya itu lagi-lagi berhasil. Keberhasilan awal ini mendorong pengembangan lebih lanjut pada Tahun 2022. Reaktor beserta sarana dan prasarana pendukung produksi biogas berhasil diduplikasi di beberapa lokasi peternakan di Kelurahan Watang Bacukiki, menjadi tanda langkah penting dalam penyebaran teknologi ramah lingkungan ini.
Pada Tahun 2023, inovasi tersebut terus dikembangkan. Dilakukan penambahan reaktor baru dan pengembangan sistem penampungan biogas melalui medium non-pipa atau SBBU (Stasiun Ban Biogas Umum) yang memanfaatkan ban bekas sebagai penampungan biogas. Itu bisa bertahan dua sampai tiga jam untuk memasak. Inovasi ini memungkinkan distribusi biogas ke lokasi-lokasi warga di Kelurahan Watang Bacukiki yang sebelumnya sulit dijangkau, bisa dilaksanakan.
Keunikan desain ini terletak pada integrasi langsung antara kandang dan reaktor. Tidak seperti sistem tradisional yang memerlukan pengangkutan kotoran ternak ke tempat pengolahan terpisah. Reaktor ini memproses limbah secara langsung. Tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memudahkan pengelolaan oleh masyarakat.
Firman mengungkap, Tahun 2024, sudah ada tujuh reaktor terbangun dengan kapasitas memenuhi kebutuhan 35 kepala keluarga. Selain edukasi pemanfaatan biogas, program pelatihan tanggap bencana juga dilakukan untuk meningkatkan keamanan masyarakat dalam penggunaan energi terbarukan. Sebanyak 13 warga telah dilatih dalam penanganan kebakaran dan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Seluruh reaktor biogas yang dibangun dilengkapi dengan fasilitas APAR untuk meningkatkan keamanan. Desain reaktor dijamin aman berkat bantuan dari komunitas biogas Indonesia. Para peternak juga telah kita latih dalam pembuatan dan pengoperasian reaktor biogas. ” Hal ini diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi mereka, selain dari hasil peternakan yang biasanya hanya dapat dijual setahun sekali,” harap Firman.
Program ini tidak hanya berfokus pada energi, tapi juga pengelolaan limbah secara menyeluruh. Limbah hasil produksi biogas dimanfaatkan sebagai pupuk oleh petani, sementara limbah pertanian dijadikan pakan alternatif bagi ternak. Target kami di Tahun 2025 adalah mencapai zero waste di Kelurahan Watang Bacukiki, tegas Firman.

Pemerintah Kecamatan Bacukiki pastinya turut berbahagia dengan apa yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare. Sebab telah sukses mengedukasi warga untuk keluar dari perselisihan dengan cara yang sangat inovatif. Yakni reaktor biogas yang menguntungkan kedua pihak yang berselisih, peternak dan petani.
Camat Bacukiki, Saharuddin, melihat potensi pengembangan yang besar di wilayahnya. Di Watang Bacukiki tercatat 30 warga yang melakukan kegiatan penggemukan sapi. Artinya, potensi penambahan reaktor biogas baru masih bisa dilakukan, jelasnya.
Ketua Kelompok Ternak Tangguh, Jamal yang telah mengikuti pelatihan tata cara pembuatan reaktor pengolahan kotoran sapi menjadi energi terbarukan, menjelaskan proses pengolahan limbah tersebut. Kotoran sapi dari kandang langsung dialirkan ke reaktor melalui saluran yang telah disiapkan. Di dalam reaktor, kotoran sapi diolah secara otomatis sehingga menghasilkan biogas, ujarnya.
Biogas yang dihasilkan kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga melalui pipa kecil yang terhubung dari reaktor. Sementara itu, ampas dari limbah yang telah diolah dimanfaatkan oleh para petani sebagai pupuk organik.
Saat ini, terdapat tujuh reaktor yang tersebar di Kelurahan Watang Bacukiki. Empat reaktor berada di wilayah RW5 dan tiga reaktor di RW1. Kami berencana menambah tiga reaktor lagi di RW7, tambah Jamal.
Ia menegaskan bahwa semakin banyak kotoran sapi yang diolah, semakin besar pula jumlah biogas yang dihasilkan. Ini menunjukkan potensi besar dalam pemanfaatan limbah ternak sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.
Jamal pun berharap keberadaan Kampung Energi Berdikari Bacukiki dengan kolaborasi dan komitmen, masalah lingkungan dapat diubah menjadi solusi energi yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya memberikan kemandirian energi bagi warga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, memperkuat hubungan sosial, dan menciptakan model pembangunan berkelanjutan. Harapannya, meraih masa depan yang hebat dengan menjaga lingkungan, tanpa perselisihan lagi.
Selain untuk peternak dan petani, bio gas juga dirasakan manfaatnya oleh ibu rumah tangga. Seperti pengakuan Ny Nurman, salah seorang pengguna bio gas di Kampung Energi Berdikari, Kota Parepare. Ia menyatakan bahwa penggunaan bio gas telah sangat membantunya dalam kegiatan sehari-hari. Bio gas tidak hanya memudahkan aktivitas memasaknya, tetapi juga membantu mengurangi biaya bahan bakar untuk memasak.
Dengan adanya bio gas, saya merasa sangat terbantu. Setiap hari, pekerjaan memasak jadi lebih cepat dan efisien. Selain itu, saya juga bisa menghemat biaya yang biasanya saya keluarkan untuk membeli bahan bakar, ujar Ny Nurman.
Hal sama dirasakan IRT lainnya, Tati. Bio gas, sebutnya, selain murah, juga lebih higienis dibandingkan dengan bahan bakar konvensional. Dengan menggunakan bio gas, saya merasa lebih hemat dalam pengeluaran sehari-hari. Selain itu, bio gas juga lebih higienis dan ramah lingkungan, ujar Ny Tati.
Manfaat bio gas yang dirasakan oleh Ny Nurman dan Ny Tati mencerminkan potensi besar dari energi terbarukan ini dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama dalam hal efisiensi, penghematan biaya, dan kebersihan.
Potensi itu terbuka. Sebab populasi ternak sapi di Parepare sesuai data Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan (PKP) Parepare, terbanyak di Kecamatan Bacukiki yaitu 3.433 ekor dari total populasi di Parepare 4.326 ekor, per September 2024.
Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan (PKP) terus melakukan pembinaan peternak sapi dan petani. Untuk pembinan peternak, bagaimana beralih dari sistem tradisional ke sistem yang lebih modern, terutama dengan keterbatasan lahan di Kota Parepare.
“Salah satu program unggulan adalah inseminasi buatan (IB), bertujuan untuk menjaga produktivitas sapi betina dalam pengembangan populasi. Selain itu, Pemkot Parepare juga menyediakan layanan Callnak Centre yang bertugas menangani penyakit ternak, memberikan vaksinasi, pengobatan, serta vitamin secara gratis,” ungkap Kepala Dinas PKP Parepare, Wildana.
Sementara memastikan ketersediaan pakan ternak, telah dibangun gudang pakan ternak, dan peningkatan mutu pakan dengan memberikan bantuan berupa mesin chooper dan instalasi pengolahan pakan ternak.
Dinas PKP memberikan bimbingan mengenai pengolahan pakan dari hijauan pakan ternak (HPT) dan limbah pertanian, serta mengembangkan kebun rumput untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Pemkot juga memberikan bantuan bibit sapi kepada kelompok guna menambah populasi sapi di Kota Parepare.
Sehingga, kata Wildana, potensi pengembangan biogas di Kelurahan Watang Bacukiki sangat terbuka. Ini karena sebagian besar ternak dipelihara secara intensif dengan sistem kandang, sehingga feces dan urin ternak dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakunya.
Itu untuk peternak. Bagi ibu rumah tangga, seperti pengakuan Ny Nurman dan Tati, menurut Wildana, inovasi Pertamina tersebut telah memberikan manfaat besar bagi warga. Kolaborasi yang dilakukan berbagai kalangan yang diinisiasi pihak Pertamina dirasakan manfaatnya.
” Program ini berjalan dengan lancar.
Dengan adanya potensi biogas ini, penggunaan energi terbarukan dapat lebih dioptimalkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi peternak dan warga di wilayah tersebut. Semoga akan terus berkembang,” harap Wildana.
Pihaknya, akan terus turut andil dalam program itu. Sesuai tugas dan fungsi yang diembannya. Apalagi untuk kemaslahatan, PKP akan membantu. Termasuk bila ada program-program lain dari berbagai pihak, termasuk PT Pertamina Patra Niaga.
Apa yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare tak hanya menjadi perhatian daerah tetangga, terutama di kawasan Ajatappareng (Barru, Sidrap, Pinrang dan Enrekang), tapi juga pemerintah pusat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan penghargaan, diserahkan Menteri KLHK, Siti Nurbaya, di Jakarta Convention Center pada 9 Agustus 2024.
Penghargaan ProKlim ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare yang dioperasikan Tahun 1972 ini dalam mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal. Sebab Program Kampung Iklim yang dijalankan mencakup berbagai kegiatan, seperti pengendalian kekeringan, peningkatan ketahanan pangan, dan pengelolaan sampah serta limbah.
Area Manager Communication, Relation, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah Kota Parepare, Dinas Lingkungan Hidup, dan masyarakat setempat. Penghargaan ini adalah bukti komitmen kami untuk terus berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan, ujar Fahrougi.
Menjaga Laut dan Hutan
Tidak hanya pemberdayaan masyarakat dalam mengelola lingkungan. PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare juga menggandeng instansi pemerintah, swasta dan masyarakat untuk terjun langsung menjaga lingkungan di Parepare dan sekitarnya.

Itu penting dilakukan di Parepare. Sebab kota kelahiran Presiden ketiga Republik Indonesia, Alm BJ Habibie ini, merupakan daerah pesisir dan perbukitan. Warga di daerah pesisir sebagian menggantungkan hidup sebagai nelayan. Maka laut adalah salah satu sumber kehidupan yang paling vital. Makanya harus dijaga dari pencemaran yang dapat merusak ekosistem laut dan mengganggu kehidupan manusia.
Tak bisa dipungkiri, tumpahan minyak secara tak sengaja atau kecelakaan kapal yang mengangkut minyak mentah yang menyebabkan tumpahan minyak, tentu merusak ekosistem laut. Inilah paling dikhawatirkan masyarakat pesisir, termasuk di Kota Parepare.
Makanya, PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi melakukan antisipasi, mengedukasi dan terjun langsung di lapangan. Dengan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), dibuat program yang disebut Mydarling, yaitu pelatihan dan pengembangan wilayah kota yang ramah lingkungan. Mendukung kegiatan yang berorientasi pelestarian lingkungan hidup, khususnya wilayah pesisir pantai Parepare dan Pinrang.
Yang dilakukan langsung pihak Pertamina adalah menyemprotkan oil dispersant ramah lingkungan untuk mengurai tumpahan minyak, sehingga mudah dicerna oleh mikroba laut. Selain itu, juga memiliki tim tanggap darurat yang siap menangani bila ada insiden tumpahan minyak.
Untuk flora atau tumbuhan, pastinya tak luput dari perhatian. Dilakukan formal dan non formal. Yang formal seperti pada peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April. Pada peringatan Hari Bumi 2024, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Parepare melakukan penanaman 2.500 bibit pohon di beberapa tempat. Pusat kegiatan di Kebun Raya Jompie, Kota Parepare.
Penanaman pohon direspons positif. Makanya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Parepare, Forkompinda serta beberapa stakeholder lainnya ikut ambil bagian dalam aksi penanaman pohon itu. Dinilai bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga lingkungan. Sebab harus disadari bahwa pohon-pohon itu akan menebar manfaat bagi manusia, saat ini dan di masa yang datang.
Itu diakui Area Manager Communication Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Fahrougi Andriani Sumampouw. Menurutnya, penanaman pohon merupakan bentuk komitmen Pertamina dalam menekan emisi karbon. Makanya, Pertamina mempunyai pilar program utama tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), yaitu Pertamina Hijau. Salah satunya melalui program hutan Pertamina. Hutan Pertamina merupakan program TJSL Pertamina dalam upaya konservasi dan reforestrasi hutan dengan penanaman pohon mangrove dan tanaman lainnya,” ujarnya.
“Pertamina sebagai perusahaan BUMN mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) poin (13) yaitu pengambilan aksi dalam penanganan perubahan iklim, serta poin (15) melindungi, memulihkan, dan mendukung ekosistem daratan sebagai salah satu usaha untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan,” tandasnya.
Ada beberapa jenis pohon yang ditanam. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Parepare, Susianna, mengungkap, di Parepare ada berbagai jenis, yakni mahoni, ketapang dan tabubuya. Selain di Kebun raya Jompie, juga dibagikan kepada instansi pemerintah, BUMD dan sekolah untuk ditanam.
Penanaman pohon di kebun raya, diakuinya akan semakin meningkatkan fungsi dari kebun raya, di antaranya sebagai tempat penelitian, pembelajaran dan dapat dikembangkan menjadi eco eduwisata. Yakni kegiatan wisata yang mengedukasi melalui pengalaman langsung dan pembelajaran berbasis alam.
Program TJSL Pertamina itu sudah berjalan lebih dari 3 tahun di Kebun Raya Jompie, Kota Parepare. Diharapkan tempat tersebut akan dijadikan pusat pembelajaran, selain menjadi paru-paru Kota Parepare. Kebun Raya Jompie diharapkan mampu menjadi lokasi eco eduwisata Kota Parepare, sudah beberapa aktivitas dikembangkan di sini sehingga masyarakat, terutama anak-anak yang masih sekolah bisa datang berwisata sambil menambah pengetahuannya mengenai koleksi tanaman yang ada. Kami pun telah melengkapi digitalisasi informasi terkait tanaman yang ada di Kebun Raya Jompie sebagai penunjang pembelajaran masyarakat. Mudah-mudahan dapat bermanfaat terus ke depan, harap Susiana.
Kepala UPTD Kebun Raya Jompie melalui salah seorang stafnya, Rosdiana juga merespons positif program yang dijalankan Pertamina. Menurutnya program tersebut telah banyak membantu pengembangan Kebun Raya Jompie sebagai tempat konservasi dan edukasi lingkungan berbasis wisata.
Peran Pertamina sangat penting, menjadikan kawasan konservasi ini sebagai sarana edukasi kepada masyarakat untuk generasi muda mengenal lebih jauh tentang tanaman endemik dan dilindungi. Kami sering menerima kunjungan dari wisatawan umum, rombongan keluarga, pelajar dan akademisi. Tempat ini dijadikan lokasi penelitian,” tuturnya.
Itu diamini Duta Lingkungan Parepare, Aulia Mustika. Pertamina disbutnya sangat mendukung kegiatan lingkungan di Parepare, bukan hanya saat ini, tapi hampir semua kegiatan lingkungan dan sosial, Pertamina selalu hadir bersama masyarakat. Sebab tak hanya menanam, pohon-pohon itu dijaga dan dipelihara.
Aulia menilai, Pertamina konsisten melakukan pendampingan dan pembinaan kepada Kelompok Konservasi Kebun Raya Jompie melalui sejumlah kegiatan dan bantuan yang diberikan. Ia menyebut salah satu contoh tentang digitalisasi identitas pohon.
Dengan itu, Kebun Raya Jompie bisa diakses lewat website dan aplikasi. Bersama Pertamina dan pengelola Kebun Raya Jompie, pada Mei 2022 lalu melatih tim untuk inovasi tersebut. Website dan aplikasi itu bakal jadi media promosi untuk menarik wisatawan. Melalui website dan aplikasi yang didukung penuh Pertamina, informasi seputar Jompie tersebar luas.
Selain itu, dipasang barcode untuk 100 tanaman endemik. Agar pengunjung bisa mengakses informasi seputar tanaman endemik Sulsel yang ada di Kebun Raya Jompie Parepare.

Nah, apa yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi itu mendapat apresiasi dari Ketua LSM Lingkar Hijau, Iqbal Rahim Gani. LSM yang aktif dalam proses pengawasan dan pengendalian pencemaran lingkungan hidup itu menilai, program yang dijalankan Pertamina menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan. Patuh pada terhadap peraturan yang berlaku, khususnya yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial.
” Saya sangat mengapresiasi upaya Pertamina dalam menjaga kelestarian lingkungan di Parepare. Program-program seperti penanaman mangrove dan pelestarian keanekaragaman hayati sangat bermanfaat bagi ekosistem lokal, ujar Iqbal.
Ia juga memuji kolaborasi antara perusahaan seperti Pertamina dengan organisasi lokal dan masyarakat bersama-sama untuk memastikan bahwa program-program lingkungan dapat berjalan dengan efektif dan memberikan dampak positif yang nyata.
Dorongan agar lebih banyak perusahaan untuk mengambil langkah serupa dalam menjaga lingkungan dan berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem di daerah pun digaungkan. Berkaca pada apa yang dilakukan Pertamina, di mana yang diketahuinya memiliki 30 program local community fauna dan 16 program dengan lokal community menyangkut flora. Ini menjadi bukti bahwa program CSR Pertamina mengutamakan aspek lingkungan yang tentu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Itu sejalan dengan harapan Wakil Presiden RI, Maruf Amin saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2024, di Arboretum Ir Lukito Daryadi, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, pada Jumat, 5 Juli 2024.
Ia meminta dilakukan langkah konkret. “Melalui langkah-langkah konkret, Indonesia terus berupaya membangun ketahanan lingkungan untuk mewarisi bumi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Mengapresiasi upaya KLHK, mitra pembangunan, dunia usaha, akademisi dan beberapa pihak yang telah aktif memperjuangkan upaya-upaya mengatasi perubahan iklim,” ujarnya.(*)






