SURABAYA — Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, melakukan kunjungan langsung ke Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP), LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), kemarin.
Ia meninjau dua inovasi unggulan berbasis teknologi ramah lingkungan: insinerator bebas asap dan sistem penjernihan air, yang dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis sains dan sosial.
“Inovasi ekonomi kreatif bukan sekadar estetika ia lahir dari sentuhan budaya, riset, dan teknologi,” kata Menteri Ekraf. Ia menekankan bahwa produk seperti Incinerator Technology dan UNUSA Water bisa masuk dalam klaster media digital dan teknologi terapan yang memadukan fungsi lingkungan, edukasi, dan nilai tambah ekonomi.
Produk insinerator dikembangkan untuk membakar sampah tanpa menghasilkan asap, menghindari polusi dan menjaga kualitas udara. Sementara UNUSA Water menggunakan teknologi filtrasi, adsorpsi, serta UV disinfeksi untuk menjernihkan air dari sumber tidak layak menjadi air siap pakai. Kedua inovasi ini dinilai sebagai bukti nyata bahwa kampus mampu berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Menteri Riefky juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan hexahelix melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, dan lembaga keuangan sebagai landasan pengembangan ekosistem ekonomi kreatif.
“Pelaku kreatif sering tak punya aset fisik, tapi memiliki modal ide. Maka lembaga keuangan harus belajar menilai kreativitas sebagai kapital baru,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Kementerian telah membangun jejaring dengan 160+ asosiasi dan mitra lintas sektor untuk mendorong pembiayaan, promosi, hingga komersialisasi produk inovatif.
Presiden RI Prabowo Subianto juga telah menempatkan ekonomi kreatif sebagai pilar utama pembangunan nasional. “Ekraf bukan hanya soal lapangan kerja, tapi tentang penciptaan lapangan kerja berkualitas,” tegas Menteri Riefky.
Rektor UNUSA, Achmad Jazidie, menyatakan apresiasinya atas kunjungan ini dan menegaskan komitmen kampus dalam melahirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Ketua LPPM UNUSA, Achmad Syafiuddin, turut menegaskan bahwa produk-produk inovatif yang ditampilkan mengutamakan prinsip berbiaya rendah dan sesuai realitas lapangan.
Kunjungan ini juga dihadiri Wakil Rektor, Dekan, dan pejabat struktural UNUSA, serta Deputi Kemenparekraf Cecep Rukendi dan Staf Ahli Dian Permanasari. Ini menjadi sinyal kuat bahwa inovasi dari daerah, terutama yang berpijak pada nilai sosial dan lingkungan, akan terus didukung demi pemerataan pembangunan.(*)






