JAKARTA–Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), mengingatkan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi generasi muda Islam. Hal ini disampaikan JK saat menerima kunjungan siswa-siswi kelas 12 Pondok Pesantren Dea Malela, Sumbawa, di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis malam, 23 Oktober 2025.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, JK menekankan bahwa penguasaan ilmu merupakan kunci utama untuk menghadapi tantangan zaman, terutama di era kemajuan teknologi seperti saat ini. “Kita harus bisa menguasai ilmu. Sebab kalau tidak, ilmu yang akan menguasai kita,” ujar JK di hadapan puluhan santri.
JK mencontohkan perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini mulai menggantikan banyak peran manusia dalam dunia kerja. Menurutnya, generasi muda harus bersiap menghadapi realitas ini dengan memperkuat kapasitas intelektual dan keterampilan teknologi. “Ke depan, kita akan berhadapan langsung dengan AI dalam dunia kerja. Maka dari itu, penting untuk terus belajar dan beradaptasi,” tambahnya.
Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), JK juga menegaskan bahwa penguasaan ilmu agama tetap menjadi fondasi utama bagi para santri. Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan umat tidak akan tercapai tanpa dibarengi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Agama tetap nomor satu. Tapi jika tidak menguasai ilmu dan teknologi, maka sulit bagi kita untuk mengalami kemajuan,” tegasnya.
JK turut menyoroti ketertinggalan dunia Islam dalam bidang teknologi. Ia menyebut bahwa kemajuan sejumlah negara Arab lebih banyak ditopang oleh kekayaan sumber daya alam, bukan karena inovasi teknologi. “Negara-negara Islam di Timur Tengah tertinggal jauh dibanding negara-negara maju. Jangan heran jika Palestina selalu kalah dengan Israel,” ungkapnya.
Tak hanya soal teknologi, JK juga menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi ekonomi umat Islam, termasuk di Indonesia. Meski umat Islam merupakan mayoritas penduduk sekitar 87 persen dari 280 juta jiwa namun penguasaan ekonomi masih didominasi oleh kelompok lain. “Yang menguasai ekonomi bukan kita. Teman-teman kita dari China yang justru menguasainya,” kata JK.
Ia pun mendorong generasi muda untuk meneladani etos kerja masyarakat Tionghoa yang dikenal gigih, jujur, dan disiplin. “Kita harus belajar dari semangat kerja keras, kerja baik, dan kejujuran mereka,” imbuhnya.
Menutup pertemuan, JK memberikan motivasi kepada para santri untuk terus menuntut ilmu sebagai jalan memajukan peradaban Islam.
“Ini adalah tugas kita dan kalian di masa depan. Terus belajar dan mengejar ilmu untuk kemajuan umat Islam dalam segala hal,” pungkasnya.(*)






