Kaum Milenial tak Lirik Profesi Guru, Ini Kata Mendikbud

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy

KILASSULAWESI.COM, JAKARTA – Di kalangan kaum milenal profesi guru belum menjanjikan baik dari secara finansial maupun sosial. Karenanya di kalangan mereka minat untuk menjadi guru terbilang rendah. Kondisi membuat prihatin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy. Indikator itu dilihat dari animo anak muda masuk Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Menanggapi sepinya minat kaum melenial untuik menjadi guru, Pengamat Pendidikan, Budi Trikorayanto mengatakan, memang sudah seharusnya para lulusan-lulusan perguruan tinggi (PT) dari universitas ternama juga ikut mengajar menjadi guru. Namun, menurut dia, hal itu mendapat larangan dari lulusan Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

Dia melihat, saat ini sudah banyak sekolah-sekolah yang menggaet guru-guru dari lulusan non IKIP. Namun biasanya sekolah-sekolah swasta. Nah, rata-rata sekolah-sekolah swasta itu cukup bagus dari hasil lulusan-lulusannya. “Seperti Al Azjar, Penabur, lulusan-lulusan gurunya bukan dari sarjana pendidikan, melaikan dari universitas lain,” kata Mendikbud, kemarin..

Oleh karena itu, menurut dia, selain membenahi kelangkaan jumlah guru, juga membuka kesempatan kepada lulusan universitas lain bisa mencetak generasi-generasi masa depan yang andl dan bersaing tinggi di dunia. “Jadi lulusan universitas lain jangan dibatasi untuk menjadi guru. Tidak hanya lulusan guru dari universitas, praktisi-praktisi juga boleh untuk mengajar, menjadi guru. Jadi tidak hanya sarjana pendidikan saja, jang terlalu sempit,” tutur dia.

Tentu saja, lanjut dia, tidak serta merta memberi kebebasan lulusan universita maupun praktisi untuk menjadi guru. Semua itu harus ada aturannya, seperti harus diverivikasi sebagai guru. “Kan banyak juga itu sarjana-sarjana abal-abal, enam bulan sudah jadi sarjana. Jadi harus di-sharing terlebih dahulu, agar jelas dan memiliki kompetisi mengajar,” kata dia.

Berdasarkan hasil angket untuk mengetahui aspek non kognitif termasuk cita-citanya, hanya 11 persen siswa peserta Ujian Nasional (UN) tingkat SMA 2018/2019 yang ingin menjadi guru. Sisanya, 89 persen peserta lebih memilih profesi lain seperti menjadi pengusaha, bahkan menjadi presiden.

Namun, yang menjadi perhatian, secara umum siswa yang ingin menjadi guru ini capaian hasil UN-nya lebih rendah dibandingkan siswa yang memilih profesi lainnya sebagai cita-cita. Adapun nilai ingin menjadi guru mencakup; bahasa Indonesia di bawah 65.00, bahasa Inggris 45.00, dan Matematika 35.00. Hal ini tentu sangat memprihatinkan mengingat guru adalah profesi yang sangat penting untuk mendidik generasi penerus bangsa.(FIN)

 

Pos terkait