Tasbih Berusia 400 Tahun jadi Saksi Masuknya Islam di Binuang

KILASSULAWESI.COM,POLMAN — Pernahkah anda melihat tasbih terbesar dan terpanjang selama ini. Kalau belum, coba berkunjung ke Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Saat ini sebuah tasbih yang berukuran besar dengan panjang mencapai 38 meter, tersimpan rapi di rumah salah satu ahli waris pemilik tasbih raksasa di Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang. Usia tasbih tersebut diperkirakan sudah lebih dari 400 tahun.

Tasbih raksasa sebesar ukuran buah kemiri itu terbuat dari buah manjakani yang didatangkan langsung dari Tanah Suci Mekah, dengan jumlah biji tasbih sebanyak 3.300 biji.Tasbih ini juga menjadi saksi peradaban agama Islam masuk di wilayah Binuang. Awalnya, tasbih dibawa oleh Syekh Abdul Kadir, atau Haji Mallawi, dari tanah Arab, saat menyebarkan agama Islam pertama di Kerajaan Binuang.

Bacaan Lainnya

Kini tasbih ini dipegang oleh Muslimin,  sebagai pewaris keturunan. “Sudah ratusan tahunmi ini pak tasbih saya simpan dan saya mungkin yang menjadi generasi kelima dari keturunan yang layak memegangnya. Tasbih ini, karena kalau diluar dari pada Keturunan Syeh Abdul Kadir atau H Mallawi yang memegang Tasbih itu tidak boleh disimpam atau dipegang,” kata Muslimin, Rabu 29 April saat dikunjungi Parepos Online, dikediamannya di Lingkungan Binuang 1.

Selama berada di rumah, kata Muslimin, tasbih ini digunakan warga pada berbagai hajatan, seperti khatam Alquran, Maulid dan Tahlilan. Tapi, untuk menjaga kelestarian, kini hanya dipakai berzikir berjamaah di Masjid saat ramadan. Biasanya saat ramadan, tasbih ini digunakan jemaah untuk berdzikir di Masjid usai salat tarwih. Namun saat sekarang ini karena adanya wabah pandemi Covid 19, tasbih ini hanya disimpan dirumah. “Tidak ada kegiatan dan tidak bisa dipakai, karena kita dilarang beribadah di Masjid,” ujar Muslimin yang juga imam Masjid Nurul Hidayah, Binuang.

Tasbih yang diklaim terpanjang di dunia oleh warga Binuang ini biasa digunakan puluhan warga untuk berzikir usai salat tarawih atau salat Jumat. Biasanya, warga duduk melingkar, tangan mereka memegang tasbih ini sambil berzikir bersama mengucapkan kalimah ” Lailaha Illallah” dan dibutuhkan hingga puluhan orang untuk berdzikir. “Kalau berdzikir satu kali saja berputar, karena jumlahnya banyak 3.300 butir,” terang Muslimin.

Muslimin mengakui, pengurus rumah adat Balla Lompoa, Gowa, Sulawsi Selatan pernah datang meminta untuk dimasukkan kedalam museum, namun ditolaknya, dengan alasan ingin tetap menjaga warisan tersebut. Kini tasbih raksasa tersebut masih tersimpan rapi di rumahnya di Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.(win)

Pos terkait