Harga BBM dan LPG Non Subsidi Kembali Meroket

Senior Supervisor Communication & Relation Pertamina Regional Sulawesi, Taufiq Kurniawan

JATIM, KILASSULAWESI– Tiga produk PT Pertamina yakni Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex kembali meroket. Naiknya harga BBM dari ketiga jenis tersebut mengacu pada keputusan Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Arifin Tasrif.

PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) Umum dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui, pada 3 Maret 2022 lalu, harga Pertamax Turbo sebesar Rp 14.500 per liter. Namun hari ini naik menjadi Rp 16.200 per liter. Kemudian, Pertamina Dex awalnya Rp 13.700 per liter, naik menjadi Rp 16.500 per liter, dan harga Dexlite naik sebesar Rp 15.000 per liter yang sebelumnya hanya Rp 12.950 per liter.

Begitu pun harga gas elpiji atau LPG yang naik adalah ukuran 5,5 kg dan 12 kg alias gas elpiji nonsubsidi jenis Bright Gas. Sedangkan harga elpiji 3 kg masih tetap karena mendapat subsidi pemerintah.
Harga elpiji Bright Gas juga naik sekitar Rp 2.000 per kilogram.

Senior Supervisor Communication & Relation Pertamina Regional Sulawesi, Taufiq Kurniawan menuturkan, kenaikan produk pertamina itu disebabkan karena berbagai faktor. ” Selama ini sudah mempunyai peraturan, dan itu sejak tahun 2014 melalui Perpres 191 terkait distribusi BBM dan LPG, mulai dari kriteria penerima dan siapa saja itu sudah ada,”ujar Taufiq.

Terkait jenis BBM yang mengalami kenaikan itu adalah bahan bakar non subsidi. Harganya itu mengikuti nilai pasaran global. ” Makanya kita harus membiasakan diri, utamanya terkait penggunaan non subsidi yang harganya akan naik sewaktu-waktu. Sedangkan yang subsidi itu ditentukan pemerintah dan yidak mengalami kenaikan. Termasuk pertamax walau non subsidi kita tetap menjaga daya beli masyarakat,” ungkapnya.

Kenaikan ini, kata Taufik, tak lepas dari ketegangan diwilayah eropa timur yanb tak kunjung usai. Dan dampaknya bukan hanya Indonesia, tapi banyak negara lainnya yang mengalami krisis ekonomi global dimana disebabkan minyak dunia cukup tinggi. “Makanya pemerintah melalui Pertamina harus menyesuaikan dengan perkembangan tersebut. Dan masyarakat yang menggunakan BBM non Subsidi harus sadar perubahan harga itu bisa terjadi sewaktu-waktu, bahkan harganya turun pun itu sangat mungkin terjadi secara kultuatif,”tegasnya.

 

Terpisah, Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting menjelaskan alasan kenaikan harga gas elpiji dan BBM non subsidi karena mengikuti perkembangan harga minyak dan gas dunia. Pada Juni 2022, harga minyak Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) senilai 117,62 dollar AS atau lebih tinggi 37 persen bila dibandingkan harga pada Januari 2020.

Sementara itu, harga elpiji berdasarkan Contract Price Aramco (CPA) pada bulan lalu menyentuh angka 725 dollar AS per metrik ton (MT) atau lebih tinggi 13 persen jika dibandingkan harga rata-rata sepanjang tahun 2021. Pertamina menyatakan porsi produk Pertamax Turbo dan Dex Series hanya lima persen dari total konsumsi BBM nasional.

Sedangkan, porsi produk elpiji nonsubsidi hanya enam persen dari total komposisi elpiji nasional. “Pemerintah melalui Pertamina terus menjaga daya beli masyarakat dengan menjaga ketersediaan energi dengan harga yang terjangkau, jadi Pertalite, Solar, dan elpiji tiga kilogram dijual dengan harga yang tetap,” jelas Irto Ginting dalam keterangan resminya.(*)

 

Pos terkait