Mengenal Pengusaha Batu Bara Asal Bone Haji Isam, Diduga Terlibat Kasus Adani Group di India

Syamsudin Andi Arsyad

JAKARTA, KILASSULAWESI–Mencuatnya kasus Proyek Pelaporan Kejahatan dan Korupsi Terorganisir (OCCRP), dimana salah satu perusahaan besar Adani Group diduga kuat melakukan penipuan dan meraih keuntungan besar karena menggunakan batubara kualitas rendah untuk PLTU perusahaan listrik India. Kualitas batu bara yang rendah pun berdampak terhadap kualitas udara negara itu.

Dari informasi dari pemberitaan laporan The Financial Times (FT) menyebut Adani memperoleh batubara itu dari perusahaan pertambangan asal Indonesia yang terkenal memproduksi batubara berkalori rendah. Adani mengirimkan komoditas itu ke bagian selatan India untuk memenuhi kontrak berspesifikasi batubara berkualitas tinggi.

Berdasarkan dokumen yang diperoleh OCCRP pada Desember 2023, sebuah kapal bernama MV Kalliopi L awalnya membawa batubara Indonesia dengan harga US$ 28 atau Rp 453.152 (kurs Rp 16.184) per ton. Namun ketika kapal itu tiba di India tepat pada tahun baru, batubara itu dijual Adani di harga US$ 92 atau Rp 1.488.928 per ton kepada Tangedco.

Setelah ditelisik, batubara itu ternyata berasal dari grup pertambangan PT Jhonlin yang berlokasi di Kalimantan Selatan. PT Jhonlin adalah perusahaan milik pengusaha, Syamsudin Andi Arsyad alias Haji Isam. Haji Isam diketahui
merupakan seorang pengusaha batu bara yang sangat terkenal dari Kalimantan Selatan.

Ia lahir di Bone, Sulawesi Selatan, dari keluarga sederhana, Haji Isam memulai perjalanannya dari titik nol.┬áHaji Isam adalah konglomerat asal Kalsel. Dia dikenal dekat dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Haji Isam bahkan pernah menjabat sebagai Wakil Bendahara Tim Pemenangan Jokowi – Ma’ruf Amin.

Kedekatan antara Jokowi dan Haji Isam itu juga tercermin saat Presiden Jokowi meresmikan pabrik biodiesel JAAR beberapa waktu lalu. Jokowi yakin potensi dari pabrik biodiesel ini akan membuka lapangan pekerjaan yang banyak, khususnya setelah mulai beroperasi pada Oktober 2021.

Seperti diketahui, Haji Isam meniti karir sebagai pengusaha dari bawah. Kehidupan awalnya diwarnai dengan pekerjaan sebagai tukang ojek dan sopir pengangkut kayu, di mana ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Haji Isam perlahan-lahan membangun kariernya dan berhasil mencapai kesuksesan besar di bidang pertambangan dan perdagangan. Usaha kerasnya membuahkan hasil ketika ia mendirikan PT Jhonlin Baratama pada tahun 2003.

Perusahaan ini berkembang pesat dan menjadi salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia, menempatkan Haji Isam di antara para pengusaha paling berpengaruh di sektor ini. Belakangan ini, nama Haji Isam kembali mencuat ke permukaan setelah PT Jhonlin terseret dalam kasus dugaan manipulasi batu bara yang melibatkan Adani Group, sebuah konglomerat asal India.

Kasus ini menarik perhatian publik dan media, menyoroti kembali perjalanan bisnis Haji Isam serta kontribusinya di industri batu bara Indonesia. Kasus ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk aktivis lingkungan dan LSM antikorupsi. Mereka mendesak penyelidikan menyeluruh dan penindakan tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat.

Masalah ini mencoreng citra Haji Isam dan PT Jhonlin, serta menimbulkan kekhawatiran tentang eksploitasi sumber daya alam dan praktik bisnis yang tidak etis. Haji Isam belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan ini. Pihaknya juga belum memberikan klarifikasi atas dokumen-dokumen yang diungkap dalam laporan tersebut.

Adani Group, di sisi lain, telah membantah tuduhan manipulasi dan menyatakan bahwa mereka selalu mematuhi semua peraturan dan regulasi yang berlaku. Adani Group memiliki banyak sektor bisnis mulai dari pembangkit listrik,penambangan batu bara, semen, bandara, media, hingga makanan. Beberapa sektor bisnisnya memiliki nilai pasar pada bulan Januari sekitar US$ 220 miliar.

Pada 24 Januari 2023, sebuah kelompok investasi dari Amerika Serikat, Hindenburg Research, menuduh Adani Group melakukan manipulasi saham dan melakukan skema penipuan akuntansi selama beberapa dekade. Kritikus mengatakan kedekatan Gautam Adani dengan Perdana Menteri Narendra Modi, sesama penduduk asli negara bagian Gujarat, telah membawa keuntungan yang tidak adil bagi kelompoknya dalam memenangkan bisnis.(*)

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *