PANGKEP — Di tengah tantangan pengelolaan sampah dan minimnya sumber pendapatan daerah, Kabupaten Pangkep memunculkan secercah harapan. Sebuah pabrik pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) berdiri megah di Desa Padang Lampe, Kecamatan Ma’rang. Namanya Plant Badriah.
Sejak diresmikan pada 1 November 2024, pabrik ini terus beroperasi tanpa henti. Tidak hanya menjadi solusi konkret atas persoalan limbah domestik, namun juga disebut-sebut sebagai “mesin baru” penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pangkep, Akbar Yunus, mengatakan bahwa operasional pabrik tetap berjalan meski terkendala sejumlah aspek teknis.
“Pabrik ini belum pernah berhenti produksi. Hanya saja, memang masih ada beberapa kendala teknis,” ujarnya saat menerima kunjungan tim dari Pusat Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Pusdal LH).
Plant Badriah memproses sampah menjadi RDF bahan bakar alternatif ramah lingkungan yang diminati industri besar. PT Semen Tonasa menjadi mitra utama dan pembeli tetap produk RDF ini. Prosesnya dimulai dari pemilahan sampah menggunakan conveyor belt, pemisahan logam dan kaca, hingga masuk ke 24 bedengan untuk fermentasi alami. Sampah tersebut kemudian dihancurkan dan dikemas sebagai RDF siap pakai.
Namun, belum semua potensi bisa dioptimalkan. Kapasitas pengolahan yang terbatas dan suplai sampah yang melimpah membuat sebagian material menumpuk tanpa sempat diolah.
“Kami masih gunakan bioaktivator karena belum punya mesin pengering otomatis,” ungkap Akbar, memberi sinyal kebutuhan peningkatan teknologi.
Meski demikian, asa terus menyala. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tengah menyiapkan tambahan anggaran tahun ketiga guna mendongkrak kapasitas dan efisiensi produksi. Dengan dukungan itu, Plant Badriah diproyeksikan mampu membentuk sistem ekonomi sirkular berbasis lokal: menciptakan lapangan kerja, memperkuat komitmen lingkungan, sekaligus mengangkat PAD secara progresif.
“Kami ingin pabrik ini jadi kebanggaan masyarakat Pangkep. Bukan cuma soal sampah, tapi juga kesejahteraan dan masa depan lingkungan,” tandas Akbar.
Jika dikelola optimal, Plant Badriah berpeluang besar menjadi ikon ekonomi hijau di Sulawesi Selatan. Bahkan, menjadi model inspiratif bagi daerah lain yang tengah mencari solusi berkelanjutan atas limbah dan sumber PAD alternatif.(*)





